Arkeolog Temukan Prasasti Batu Bergambar Wajah Dewa dari 2.700 Tahun Lalu, Beratnya Setara Enam Mobil Sedan
Prasasti itu berasal dari masa kerajaan kuno Asyur di Irak.
Arkeolog asal Jerman temukan penemuan yang luar biasa di Irak. Selama penggalian di kota kuno Niniwe, tim dari Universitas Heidelberg menemukan sebagian besar dari relief monumental berukuran raksasa. Relief itu menggambarkan Raja Assurbanipal yang memerintah pada tahun 668-667 sebagai penguasa terakhir Kekaisaran Asyur. Relief raja tersebut didampingi oleh dua dewa penting dan beberapa tokoh lainnya.
Benda-benda tersebut ditemukan di ruang takhta Istana Utara. Relief ini dipahat pada lempeng batu besar yang panjangnya mencapai lebih dari lima meter dan tinggi tiga meter, dengan berat sekitar 12 ton atau setara enam mobil sedan.
Bukan karena ukurannya yang besar, ilmuwan menganggapnya sebagai temuan luar biasa karena isi dari relief tersebut.
Diapit Dua Dewa dan Manusia Kalajengking
“Di antara sekian banyak relief istana Asyur, belum pernah ditemukan penggambaran langsung para dewa besar,” jelas Prof. Dr. Aaton Schmitt dari Institut Prasejarah, Sejarah Awal dan Arkeologi Timur, seperti dilansir Euro News, Selasa (20/5). Schmitt juga merupakan penanggung jawab penggalian di Istana Utara.
Raja Assurbanipal menjadi pusat dari relief yang baru ditemukan. Ia diapit oleh dua dewa tinggi: yakni Dewa Assur dan Dewi kota Niniwe yang bernama Istar. Di belakang mereka terdapat tokoh mitologis berjuluk “Ikan Jenius” yang dipercaya membawa keselamatan dan kehidupan kepada para dewa dan raja, serta satu sosok pembantu dengan tangan terangkat. Pembantu itu diduga adalah manusia kalajengking.
“Tokoh-tokoh ini menyiratkan sebelumnya ada cakram matahari bersayap raksasa yang terletak di atas relief ini,” jelas Schmitt.
Fragmen terkubur
Relief ini dulunya dipasang di relung dinding yang berhadapan langsung dengan pintu masuk utama ruang takhta, yakni sebuah lokasi penting di dalam istana. Peneliti dari Heidelberg menemukan fragmen relief tersebut di dalam lubang tanah yang dipenuhi tanah. Lubang ini kemungkinan digali pada masa Helenistik, sekitar abad ke-3 atau ke-2 SM.
“Fakta bahwa fragmen-fragmen itu terkubur kemungkinan menjadi alasan mengapa arkeolog-arkeolog Inggris tidak menemukannya lebih dari seratus tahun lalu,” ujar Schmitt.
Dengan berkonsultasi bersama Dewan Purbakala Negara Irak (SBAH), rencananya relief tersebut akan dikembalikan ke lokasi asalnya dalam jangka menengah dan dibuka untuk publik.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey