Setelah Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026, Publik Menanti Sentuhan John Herdman
Publik berharap banyak pada strategi yang akan diterapkan oleh John Herdman setelah Timnas Indonesia tidak berhasil lolos ke Piala Dunia 2026.
Sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman memerlukan dukungan penuh dari federasi dan masyarakat Indonesia, serta waktu untuk mengembangkan konsep dan filosofi permainannya. Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni, menekankan bahwa tugas berat menanti Herdman sebagai juru taktik baru Skuad Garuda. PSSI dan para penggemar kini menunggu strategi yang akan diterapkan Herdman setelah kegagalan Jay Idzes cs. untuk mencapai Piala Dunia 2026.
Harapan besar muncul dari kesuksesan Herdman saat membawa Timnas Kanada berpartisipasi di Piala Dunia 2022, yang diharapkan dapat menginspirasi Timnas Indonesia untuk mengejar impian tinggi menuju Piala Dunia 2030. Tentunya, ini bukanlah tugas yang mudah, sehingga Herdman harus mendapatkan dukungan dari semua pihak, terutama PSSI dan para penggemar setia.
"Kita harus memberi dia waktu dan ruang untuk mengembangkan konsepnya, filosofinya, kita uji paling dekat nanti Piala Asia 2027," kata Mohamad Kusnaeni melalui kanal YouTube Nusantara TV.
Semoga kebijakan tetap konsisten
Mohamad Kusnaeni berharap agar PSSI, sebagai federasi, tidak melakukan perubahan kebijakan terkait pelatih kepala Timnas Indonesia. Menurutnya, John Herdman memiliki kontrak yang cukup panjang dengan target untuk membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030. "Mudah-mudahan tidak setiap saat berubah-ubah kebijakannya, karena itu yang kadang-kadang mengganggu progres tim nasional," ungkap Kusnaeni. Ia juga menambahkan, "Kalau pikiran para pejabat di federasi itu hari ini tiba-tiba berpikir, 'Kayaknya seru ya kalau ganti pelatih'," lanjutnya seraya tertawa.
Dalam pandangannya, stabilitas pelatih sangat penting untuk perkembangan tim. Jika kebijakan sering berubah, maka hal tersebut dapat menghambat kemajuan yang telah dicapai. Kusnaeni berharap agar PSSI lebih konsisten dalam mendukung program yang telah dirancang. Dengan demikian, tim nasional dapat mencapai tujuannya dengan lebih efektif dan efisien. "Konsistensi dalam kepemimpinan sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan dan semangat tim," tambahnya.
Apresiasi kepada PSSI meskipun kurang transparan
Mohamad Kusnaeni memberikan penghargaan dan apresiasi terhadap cara PSSI dalam merekrut pelatih baru, meskipun proses tersebut dianggap kurang transparan. "Dari perspektif saya ketika PSSI merekrut pelatih yang baru, itu dimulai dengan mengidentifikasi kemudian mewawancarai pelatihnya di Eropa. Meminta mereka untuk mempresentasikan gagasan," ujar Kusnaeni. Ia menilai bahwa langkah tersebut merupakan perubahan arah kebijakan yang positif. "Itu sebetulnya perubahan arah kebijakan dan itu hal yang positif. Meskipun sebetulnya enggak transparan-transparan amat. Kita enggak tahu juga siapa sih yang diwawancarai," lanjutnya. Dengan demikian, meski terdapat kekurangan dalam transparansi, Kusnaeni tetap melihat adanya kemajuan dalam pendekatan yang diambil oleh PSSI.
Butuh Penjelasan
Pengamat senior yang akrab disapa Bung Kus memberikan contoh mengenai keputusan PSSI yang lebih memilih John Herdman daripada Giovanni van Bronckhorst, yang sebelumnya sempat menjadi kandidat kuat. "Persoalannya apa, kita enggak cocok sama Giovanni van Bronckhorst? Apakah benar soal gaji atau ada soal yang lain, itu enggak terlalu terbuka. Tapi okelah, ini bagian dari proses ya," ungkap Mohamad Kusnaeni.
Dia juga menambahkan bahwa saat ini PSSI telah memiliki kesadaran kolektif dalam setiap keputusan yang diambil, termasuk dalam pemilihan pelatih. "Menurut saya tuh ada kesadaran di federasi sekarang mereka tidak lagi melakukannya secara individual. Bukan keputusan personal, katakanlah ketua umum, tapi bagian dari keputusan besar yang dibuat komite eksekutif. Meski prosesnya belum sempurna, tapi arahnya positif," tutup Mohamad Kusnaeni.