Kronologi Rumah Diding Boneng Ambruk
Diding Boneng mengungkapkan bahwa ketika ia menemukan rumahnya runtuh, keluarganya panik dan histeris.
Berita yang kurang menyenangkan datang dari Diding Boneng, seorang aktor komedi terkenal yang dikenal melalui film-film Warkop DKI.
Rumahnya yang terletak di Matraman Dalam 2, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, mengalami kerusakan parah, terutama di bagian tengah hingga belakang.
Diding mengungkapkan bahwa ia tidak berada di rumah saat insiden tersebut terjadi. Dia menceritakan momen ketika ia kembali dan menemukan keluarganya dalam keadaan panik.
“Jadi gimana ya, karena saya tidak tahu persis saat kejadiannya. Saya ada di luar soalnya. Jadi begitu saya pulang, itu sudah kurang lebih 20 menitan itu kejadian. Jadi sudah tidak tahu persis itu. Adik-adik saya sudah pada nangis saja pas saya datang,” kata Diding Boneng saat ditemui di rumahnya pada Selasa (30/12).
Ia juga menambahkan, “Terus saya tanya 'Kenapa?', 'Ini rubuh gimana!'. Kok nanya, lah orang saya enggak tahu, saya bilang. Nah barulah adik-adik saya yang cowok-cowok datang dan langsung lapor ke Pak RT. Jadi langsung Pak RT malam itu yang atasi semua, termasuk kehadiran Pak RW juga karena di-ini Pak RT.”
Peristiwa Terjadi Malam Hari
Kejadian yang mengejutkan warga terjadi pada malam hari di akhir pekan yang lalu. Menurut Diding, meskipun cuaca sempat diguyur hujan, intensitasnya sudah mulai berkurang saat bangunan mulai runtuh.
"Malam Senin... ini hari Minggu kemarin, kemarin malam. Jadi kemarin malam sebelum kemarin kejadiannya itu. Oh, tanggal 28 berarti ya. Yang saya tahu hujan, tapi pada saat itu hujannya sudah gerimis. Hujan itu Maghrib, ini kira-kira jam 9 malam. Jadi hujan sudah nggak ada. Memang tadinya, tadi-tadinya agak siang hujan, gitu loh. Angin ada gitu," jelasnya.
Warga setempat merasa terkejut dan khawatir dengan insiden tersebut, yang terjadi di waktu yang tidak terduga.
Diding menambahkan bahwa sebelum kejadian, cuaca memang tidak terlalu buruk, meskipun sebelumnya sempat hujan lebat.
Kejadian ini menjadi perhatian utama bagi masyarakat, terutama karena waktu dan kondisi yang tidak mendukung.
Dengan adanya angin yang cukup kencang, warga pun merasa waspada akan kemungkinan lain yang bisa terjadi di kemudian hari.
Akui Rumahnya Sudah Tua
Menurut Diding, rumahnya memang telah berusia ratusan tahun. Ia percaya bahwa bencana yang terjadi ini murni disebabkan oleh kondisi bangunan yang sudah tua.
"Kalau saya apa ya, ini rumah kan memang lapuk sudah lama dan tidak pernah di-upgrade. Nah mungkin ya ini titik akhirnya dari kelapukannya itu. Sayanya yang salah, kenapa saya terlalu santai. Beneran, saya akui saya salah," ungkapnya.
Diding merasa bahwa ketidakpeduliannya terhadap kondisi rumah menjadi faktor utama terjadinya musibah tersebut.
Ia menyadari bahwa rumah yang tidak mendapatkan perawatan yang memadai akan semakin rentan terhadap kerusakan.
Dengan pengakuan ini, Diding berharap bisa mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialaminya. Ia bertekad untuk lebih memperhatikan kondisi rumah agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Usia Rumah Jauh Lebih Tua Dibandingkan Usianya
Bagi Diding, rumah itu lebih dari sekadar struktur fisik. Ia menjelaskan bahwa ia telah tinggal di rumah tersebut sejak dilahirkan, bahkan usianya jauh lebih tua dibandingkan dirinya.
"Wuh, saya lahir di sini, di rumah ini, tuaan rumah ini sama saya. Jadi wajarlah kalau buat saya dia jatuh. Ya itu karena salah saya, kurang periksa saja. Ini lebih dari mungkin 100 tahun ada ini rumah. Karena saya 75 tahun sekarang, nah ini rumah sudah ada, saya melek tuh sudah ada. Jadi zaman bapak saya muda atau apa, ini sudah dibangun," pungkas Diding Boneng.
Menurut Diding, rumah yang ia huni memiliki makna yang mendalam baginya. Ia merasa terikat secara emosional dengan tempat tersebut, mengingat kenangan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.