Wow, Target 5 Juta Ton! Produksi GKG Sumsel Diproyeksi Melonjak Drastis pada 2026
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menargetkan peningkatan Produksi GKG Sumsel menjadi 5 juta ton pada 2026, didukung perluasan lahan sawah dan infrastruktur, menjanjikan surplus beras signifikan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) telah menetapkan target ambisius untuk produksi gabah kering giling (GKG) di wilayahnya. Gubernur Sumsel, Herman Deru, mengumumkan proyeksi peningkatan signifikan menjadi 5 juta ton pada tahun 2026. Target ini merupakan lonjakan drastis dari capaian sebelumnya, menunjukkan komitmen kuat terhadap ketahanan pangan nasional.
Peningkatan produksi ini akan didukung oleh penambahan lahan cetak sawah seluas 38 ribu hektare, sehingga total luas lahan sawah di seluruh Sumatera Selatan akan mencapai 560 ribu hektare. Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak kapasitas produksi pertanian daerah secara substansial. Pemerintah daerah berupaya keras merealisasikan visi tersebut dengan berbagai dukungan.
Optimisme ini juga didasari oleh capaian produksi GKG per September 2025 yang sudah mencapai 3,5 juta ton, naik 600 ribu ton dibandingkan tahun 2024. Angka tersebut menegaskan potensi besar Sumsel sebagai lumbung pangan. Dengan rendemen 65 persen, Sumsel diperkirakan telah surplus beras di atas 1 juta ton, mencatat sejarah peningkatan produksi GKG.
Strategi Peningkatan Lahan Sawah dan Target Ambisius
Gubernur Herman Deru menjelaskan bahwa target 5 juta ton GKG pada 2026 merupakan peningkatan drastis dari capaian 2,9 juta ton pada tahun 2024. Peningkatan ini akan didukung oleh penambahan cetak sawah baru seluas 38 ribu hektare. Dengan demikian, total lahan sawah di Sumsel akan mencapai 560 ribu hektare.
“Dengan tambahan 38 ribu hektare (menjadi 560 ribu hektare), kita menargetkan produksi GKG Sumsel menjadi 5 juta ton pada 2026,” kata Gubernur Herman Deru. Ia juga menekankan pentingnya percepatan tanam di lahan yang sudah selesai dicetak. Hal ini untuk memastikan lahan produktif segera dimanfaatkan tanpa menunggu penyelesaian keseluruhan proyek.
Gubernur Deru meminta kepada brigade pangan agar lahan yang sudah selesai dicetak segera ditanami. “Saya minta ke brigade pangan, berapapun lahan yang sudah selesai dicetak agar langsung tanam, jangan tunggu selesai. Kalau sudah selesai 100 hektare, langsung tanam,” ujarnya. Instruksi ini menunjukkan fokus pemerintah pada efisiensi dan optimalisasi lahan.
Capaian Produksi GKG Sumsel dan Potensi Surplus Beras
Per September 2025, produksi GKG Sumsel telah mencapai 3,5 juta ton, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 600 ribu ton dibandingkan capaian sepanjang tahun 2024 yang hanya 2,9 juta ton. Angka ini menjadi bukti nyata keberhasilan awal program peningkatan produksi. Peningkatan ini menempatkan Sumsel pada jalur yang tepat untuk mencapai target jangka panjang.
Dengan produksi 3,5 juta ton GKG dan rendemen 65 persen, Sumsel diperkirakan telah surplus beras di atas 1 juta ton. Capaian ini merupakan sejarah baru bagi Sumatera Selatan dalam peningkatan produksi GKG. Surplus beras ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berpotensi mendukung ketahanan pangan nasional.
Peningkatan ini memberikan optimisme bahwa Sumsel dapat menjadi salah satu dari tiga besar lumbung pangan nasional. Untuk mencapai visi ini, pemerintah daerah berupaya meningkatkan indeks pertanaman dari IP100 menjadi IP200. Hal ini berarti lahan sawah dapat ditanami dua kali dalam setahun, memaksimalkan potensi produksi.
Dukungan Infrastruktur dan Visi Lumbung Pangan Nasional
Untuk merealisasikan target produksi GKG yang ambisius, dukungan infrastruktur menjadi krusial. Gubernur Herman Deru berharap pemerintah pusat dapat mendukung rehabilitasi irigasi yang mengalami sedimentasi dan kerusakan. Normalisasi irigasi sangat penting untuk memastikan pasokan air yang memadai bagi lahan pertanian.
Selain itu, percepatan pembangunan Bendungan Tiga Dihaji juga menjadi prioritas. Bendungan ini diharapkan dapat menyediakan air irigasi yang stabil dan mencukupi, terutama untuk lahan cetak sawah baru. Infrastruktur yang memadai akan menjadi tulang punggung keberlanjutan peningkatan produksi pangan di Sumsel.
Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Sumsel sebagai lumbung pangan nasional. Dengan infrastruktur yang baik dan pengelolaan lahan yang optimal, Sumsel siap berkontribusi lebih besar pada ketersediaan pangan Indonesia. Pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan semua dukungan tersedia.
Peran Kementerian Pertanian dan Progres Cetak Sawah
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi Pertanian, Suwandi, mengapresiasi kenaikan produksi beras dan gabah di Sumsel. Menurutnya, peningkatan ini menjadi yang tertinggi dari lima provinsi penghasil pangan terbesar di Indonesia sepanjang Januari-September. Ini menunjukkan Sumsel memiliki potensi besar dan kinerja yang patut dicontoh.
Program cetak sawah di Sumsel menunjukkan progres yang menggembirakan. Survei investigasi dan desain (SID) untuk cetak sawah sudah mencapai 100 persen. Dari target 38 ribu hektare cetak sawah di Sumsel, sebanyak 29.884 hektare sudah dalam tahap kontrak. Ini menandakan bahwa sebagian besar rencana sudah dalam tahap implementasi.
Suwandi optimistis bahwa sisa lahan yang belum terkontrak, seperti di Banyuasin dan Ogan Ilir, akan segera menyusul. “Kekurangan Sumsel sedikit lagi, Banyuasin dan Ogan Ilir juga dalam waktu dekat akan melakukan kontrak. Kita target dalam waktu sebulan bisa selesai, karena Oktober nanti sudah masuk musim hujan. Kita optimis Sumsel ini menjadi daerah percontohan terbaik se-Indonesia,” ujarnya. Percepatan ini penting agar penanaman dapat dilakukan sebelum musim hujan tiba.
Sumber: AntaraNews