UMKM Butuh Ketahanan Financial, Ini Alasannya
Konsep financial health perlu disusun berdasarkan kondisi nyata masyarakat yang menghadapi pendapatan tidak menentu.
Akses keuangan saja belum cukup untuk memperkuat ketahanan finansial pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Diperlukan intervensi lain.
“Mulai dari pendampingan, edukasi, teknologi yang mudah, akses pasar, hingga kebijakan,” kata Chief Compliance & Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto dalam keterangan persnya, Senin (11/5/2026).
Menurut dia, konsep financial health perlu disusun berdasarkan kondisi nyata masyarakat yang menghadapi pendapatan tidak menentu, risiko usaha, serta tantangan dalam mengelola keuangan sehari-hari.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), Fito Rahdianto. Ia menilai pendekatan kesehatan finansial perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan agar lebih efektif.
“Sebagai koalisi yang mendorong pembiayaan bagi bisnis berkelanjutan dan ekonomi restoratif, KEM melihat inisiatif Amartha sebagai langkah penting untuk membawa perspektif akar rumput ke dalam perumusan financial health. Melalui forum ini, berbagai pihak dapat menyelaraskan pandangan dan membangun pendekatan yang lebih relevan, aplikatif, serta berdampak bagi ketahanan finansial dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Fito.
Konsep Baru
Sementara itu, Analis Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Siti Humaira, mengatakan konsep financial health masih tergolong baru sehingga membutuhkan pemahaman bersama terkait definisi dan implementasinya.
“Financial health memiliki cara pandang yang lebih komprehensif dalam melihat kondisi keuangan masyarakat. Namun, karena konsep ini masih relatif baru, penting untuk menyamakan pemahaman mengenai definisi serta bentuk implementasinya,” kata Siti.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dirilis OJK bersama BPS, indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51%.
Di sisi lain, World Bank Global Findex mencatatkan bahwa lebih dari 60% UMKM di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam memperoleh pendapatan yang stabil, sehingga menyebabkan rumah tangga tidak mampu mengelola, menabung, dan merencanakan keuangan keluarga.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan saja belum cukup untuk menciptakan financial health yang berkelanjutan.