Transformasi Bisnis, KAI Kucurkan Investasi Rp30 Triliun Bangun Sistem Transportasi Batu Bara di Sumsel
Didiek menjelaskan bahwa rencana investasi PT KAI ini bagian dari strategi bisnis perusahaan untuk memperluas jaringan perkeretaapian di Indonesia.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) berkomitmen untuk mengembangkan industri sektor batu bara di wilayah Sumatera Selatan. Komitmen ini diwujudkan dalam rencana investasi senilai Rp30 triliun guna mengembangkan sistem transportasi perkeretaapian dan angkutan logistik.
"KAI tengah merealisasikan investasi hampir Rp30 triliun di wilayah Sumatera Bagian Selatan sebagai upaya memperkuat peran perusahaan dalam sistem logistik batu bara untuk ketahanan energi nasional," kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo saat menjadi pembicara pada forum tahunan Grab Business Forum 2025 di Fairmont Hotel, Jakarta, Kamis (8/5).
Didiek menjelaskan bahwa rencana investasi PT KAI ini bagian dari strategi bisnis perusahaan untuk memperluas jaringan perkeretaapian di Indonesia. Hal ini sejalan dengan tren minat investor untuk mulai mengembangkan ekonomi di luar pulau Jawa.
"KAI tidak hanya beradaptasi, tapi juga bertransformasi secara menyeluruh. Kami berinovasi secara berkelanjutan, memberikan solusi yang dibutuhkan pelanggan, dan menjalin kolaborasi lintas sektor,” ujar Didiek.
Dia juga menekankan bahwa pandemi telah menjadi momen penting yang membentuk daya tahan KAI. Pengalaman 2020–2021 memberikan pelajaran untuk bergerak cepat, berpikir jangka panjang, dan mengandalkan digitalisasi sebagai tulang punggung efisiensi.
“Kami tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh. Ketahanan dan semangat beradaptasi itulah yang kini memperkuat pondasi bisnis KAI,” tambahnya.
Kinerja KAI
Kinerja KAI selama masa Angkutan Lebaran 2025 menjadi salah satu refleksi keberhasilan transformasi tersebut. Volume pelanggan meningkat dari 4,4 juta pada 2024 menjadi 4,7 juta pada 2025.
Sejalan dengan hal itu, tingkat ketepatan waktu keberangkatan pun mencapai 99,69 persen dan kedatangan 97,23 persen. Angka ini meningkat dari realisasi tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, dia menyoroti bahwa profil pelanggan KAI kini semakin didominasi generasi muda, terutama Gen Z yang menghendaki layanan yang serba cepat, mudah, dan digital. Hal ini mendorong KAI untuk mengembangkan layanan berbasis teknologi terkini, seperti integrasi aplikasi Access by KAI dengan PeduliLindungi pada saat Covid-19 kemarin lalu ada implementasi teknologi face recognition di boarding gate stasiun.
"Kini pelanggan cukup memindai wajah, tanpa perlu mencetak tiket atau antre panjang. Prosesnya cepat dan aman karena sesuai standar ISO 27001," imbuh Didiek.