TPAS Manggar yang 'Ajaib' Ubah Sampah Jadi Gas, Wujudkan Desa Berdikari Energi di Balikpapan
Kisah inspiratif TPAS Manggar di Balikpapan yang berhasil mengubah sampah organik menjadi gas metana, mendukung terciptanya Desa Berdikari Energi dan ekonomi mandiri bagi masyarakat sekitar.
Terik matahari siang di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, seakan tidak terasa saat memasuki kompleks pengolahan sampah organik Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Manggar. Tempat ini cukup "ajaib" karena meskipun merupakan lokasi pembuangan sampah besar, tidak tercium sedikit pun aroma tidak menyenangkan.
Fenomena ini terjadi karena gas metana, penyebab bau tak sedap dari sampah organik, dialihkan untuk penggunaan lain. Gas ini diubah menjadi gas pengganti elpiji untuk menyalakan kompor, bahkan menjadi sumber panas untuk sauna.
Program inovatif bernama Wasteco ini merupakan hasil kerja sama antara inisiator lokal Suyono dengan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Inisiatif ini telah berjalan sejak tahun 2019, membawa manfaat energi dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Inovasi Wasteco: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Kehidupan dan Mendukung Desa Berdikari Energi
Suyono, pria berusia 56 tahun, memulai program Wasteco atau Waste to Energy for Community ini dengan 12 rumah saja. Berkat pembinaan dari PHM sejak akhir 2019, manfaat pengelolaan sampah menjadi gas metana kini meluas untuk kebutuhan rumah tangga di desa.
Gas yang dihasilkan dari tumpukan sampah tersebut kini dapat dimanfaatkan oleh 380 sambungan rumah, melayani 1.520 warga atau 390 Kepala Keluarga, serta 29 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang berasal dari lima RT. Pemanfaatan ini menunjukkan potensi besar dari Desa Berdikari Energi.
Dony Indrawan, Communication Relations & CID PT PHI, menyatakan pemanfaatan gas ini berkontribusi menciptakan peluang kerja dan pertumbuhan ekonomi. Program ini juga mendukung pemerintah dalam mengurangi beban subsidi gas LPG 3kg, dengan tercatat pengurangan sebesar 18.240 tabung per tahunnya.
Program Wasteco juga berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 100.651,70 ton CO2eg/tahun. Atas kontribusi luar biasa ini, Wasteco meraih pengakuan global dalam ajang SDG Innovation Accelerator for Young Professionals 2024, serta mengantarkan PT PHM meraih penghargaan Platinum dan Gold di Circular Economy & Sustainability Awards (CESA) 2025.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan: Wujud Nyata Desa Berdikari Energi
Manfaat penggunaan gas metana di TPAS Manggar yang kian merata berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi warga desa. Data yang dibagikan Suyono menunjukkan biaya penghematan memasak keluarga mencapai Rp456 juta per tahun.
Selain itu, kas iuran gas metana terkumpul sebesar Rp45,6 juta per tahunnya, menunjukkan sirkulasi ekonomi yang positif di tingkat lokal. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah Desa Berdikari Energi dapat terwujud.
Bagja Mahendra, Senior Officer I Media Communication PT Pertamina (Persero), menyebut pembangunan desa energi berdikari sebagai salah satu "showcase" utama dari program Wasteco. Langkah ini terus diupayakan perusahaan agar kemandirian energi dan ekonomi di desa dapat berjalan beriringan serta menjangkau lebih banyak wilayah.
Semangat perusahaan untuk menjalankan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang berkelanjutan juga diwujudkan di desa-desa lain di Balikpapan. Kota Minyak ini menjadi rumah bagi kilang utama Pertamina, yang turut berkontribusi pada inisiatif serupa.
Kemandirian Berkelanjutan: Kisah KALIANDRA dan Inisiatif Lain
Salah satu desa di Balikpapan yang merasakan dampak implementasi ESG dan perekonomian lokal adalah Kampung Baru Ilir. Melalui program andalan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balikpapan, KALIANDRA (Kampung Mandiri, Sehat dan Sejahtera), warga kelurahan mendapatkan kesempatan mengembangkan inovasi ekonomi hingga pencegahan bencana longsor.
Dengan kondisi tanah lempung dan berpasir, kampung ini rawan longsor saat hujan. Warga berupaya menemukan cara menahan derasnya air hujan. Pada Maret tahun ini, warga bersama PT KPI RU V Balikpapan mencoba program `drum eco shield`.
Program ini memanfaatkan drum bekas dari perusahaan sebagai struktur penahan lereng, mencegah longsor, sembari mendukung penghijauan. Denny Saputra, Officer II CSR dan SMEPP PT KPI RU V Balikpapan, menjelaskan `pilot project` ini masih dalam tahap pengembangan dan kajian efektivitasnya.
Tak hanya itu, warga dan PT KPI juga bekerja sama sejak 2022 untuk membangun program berkelanjutan melalui penggunaan talang air dan `urban farming`. Muhammad Yusuf, Ketua RT 51 Kampung Ilir Baru, menyatakan hasil panen diolah menjadi minuman kemasan seharga Rp10 ribu per botol, menambah nilai ekonomi bagi warga.
Kesuksesan program Wasteco di TPAS Manggar dan KALIANDRA di Kampung Baru Ilir menjadi bukti nyata. Dengan kerja sama erat serta keinginan mutual untuk saling belajar antara perusahaan sekaliber Pertamina dan masyarakat, kemandirian serta ketahanan energi dapat terwujud, mengukuhkan konsep Desa Berdikari Energi.
Sumber: AntaraNews