Terungkap! Syngenta Dukung Produktivitas Padi 10 Ton/Ha, Kerek Ketahanan Pangan Nasional
Syngenta Indonesia berkomitmen meningkatkan produktivitas padi 10 ton/ha melalui inovasi dan pendampingan, krusial bagi ketahanan pangan nasional. Simak dampaknya bagi petani!
Syngenta Indonesia menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung produktivitas pertanian padi nasional, dengan fokus mencapai hasil panen konsisten 10 ton per hektare. Dukungan ini diwujudkan melalui pendampingan teknologi, inovasi bibit unggul, serta praktik budidaya berkelanjutan bagi para petani di berbagai daerah.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menyampaikan hal tersebut dalam Festival Panen Raya Komunitas 10 Ton yang berlangsung di Subang, Jawa Barat, pada hari Sabtu (4/10). Ia menyoroti keberhasilan sekitar 10-20 petani yang mengelola lahan rata-rata 1-1,5 hektare, konsisten mencapai hasil panen 10 ton, bahkan lebih, per hektare.
Inisiatif ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan mencapai swasembada pangan, yang dianggap sebagai pilar utama ekonomi. Keberhasilan program peningkatan produktivitas padi ini membutuhkan kolaborasi erat antara petani, pemerintah, dan sektor swasta.
Inovasi dan Teknologi Syngenta untuk Padi Unggul
Sebagai perusahaan yang telah beroperasi lebih dari 60 tahun di Indonesia, Syngenta Indonesia secara konsisten mendukung program ketahanan pangan nasional. Dukungan ini berfokus pada inovasi teknologi pertanian, khususnya dalam pengembangan produk perlindungan tanaman dan benih berkualitas tinggi.
Tahun ini, Syngenta telah meluncurkan benih padi hibrida 'Ningrat' (NK2133) yang memiliki potensi hasil mencapai 13,9 ton per hektare. Selain itu, mereka juga menerbitkan buku panduan 'Raih Hasil Optimal Budidaya Padi' yang berisi informasi komprehensif mengenai praktik budidaya padi untuk hasil panen optimal.
Saat ini, lebih dari 8.000 petani di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, telah menggunakan benih unggul ini. Untuk memfasilitasi petani muda, Syngenta juga membentuk GenAgri (Generasi Petani Muda untuk Negeri) yang kini beranggotakan lebih dari 2.000 petani milenial.
Eryanto menegaskan, "Festival panen raya hari ini adalah satu bukti, satu wujud nyata di mana Syngenta menjalankan visi petani maju. Jadi bukan cuma yel-yel petani maju." Komitmen ini bertujuan memaksimalkan lahan dan produktivitas petani, membuktikan daya saing petani Indonesia di tingkat global.
Kolaborasi Lintas Sektor Wujudkan Swasembada Pangan
Peningkatan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare ini tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional. Tenaga Ahli Kementerian PPN/Bappenas RI, Frans B.M Dabukke, menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara kementerian/lembaga hingga pemangku kepentingan terkait dalam mewujudkan swasembada pangan.
Frans mencontohkan, "Bayangkan kalau yang 10 ton sehektare GKP (gabah kering panen) itu dibeli Rp6.500 per kg, Rp65 juta sehektare kan, kalau ongkosnya Rp30 juta, Rp10 juta sebulan kan, wah itu sudah berapa kali UMR gitu ya." Hal ini menunjukkan potensi peningkatan pendapatan signifikan bagi petani.
Senada dengan itu, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati, menyoroti krusialnya benih unggul. "Kalau kita bicara benih mau sebagus apapun, pupuk mau sebagus apapun, tanahnya mau sebagus apapun, alat pertanian sebagus apapun drone-nya, kalau benih tidak bagus, maka tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Target Produksi dan Kontribusi Daerah
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat, optimis produksi padi di provinsinya dapat mencapai 10 juta ton tahun ini. Hingga Oktober, produksi sudah mencapai 8,7 juta ton, dan sisa dua bulan diperkirakan akan menambah 1,2 hingga 1,3 juta ton.
Dadan menilai peran perusahaan swasta seperti Syngenta sangat penting dalam mewujudkan ketahanan pangan Jawa Barat. Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, menambahkan bahwa Subang memiliki areal persawahan seluas 68 ribu hektare yang seluruhnya telah tergarap.
Subang sendiri menyumbang 1,2 juta ton atau 12 persen beras untuk Jawa Barat, dengan rata-rata produktivitas mencapai 8 ton per hektare GKP. Potensi pengembangan tambahan masih terbuka melalui pengerukan dan pencerahan sawah baru.
Sumber: AntaraNews