Terungkap! Pemprov Banten Genjot Percepatan Pembangunan Jalur MRT Tangerang Sejauh 17 KM
Pemprov Banten serius membahas percepatan pembangunan Jalur MRT Tangerang Raya. Simak detail progres dan tantangan proyek transportasi massal vital ini!
Pemerintah Provinsi Banten kini bergerak cepat membahas realisasi pembangunan jalur Mass Rapid Transit (MRT). Proyek ambisius ini bertujuan menghubungkan wilayah Tangerang Raya dengan jaringan transportasi massal Jakarta yang lebih luas.
Diskusi intensif ini melibatkan sejumlah pemangku kepentingan kunci, termasuk PT MRT Jakarta, pemerintah daerah di Tangerang Raya, serta Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Pertemuan krusial tersebut berlangsung di Tangerang Selatan pada Senin (08/9), menandai langkah maju penting.
Fokus utama pembahasan adalah penyusunan langkah tindak lanjut dan skema pendanaan yang inovatif. Tujuannya agar proyek strategis ini dapat terealisasi lebih cepat, demi memperkuat konektivitas dan mobilitas warga di kawasan penyangga ibu kota.
Progres dan Target Jalur MRT di Banten
Gubernur Banten, Andra Soni, menyatakan bahwa diskusi mengenai proyek MRT berjalan sangat intensif dan produktif. Jalur Lebak Bulus–Serpong dan Kembangan–Balaraja menjadi fokus utama pembahasan yang diharapkan segera membuahkan hasil konkret.
Andra Soni menjelaskan bahwa jalur Cikarang–Balaraja telah resmi masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Pemprov Banten berupaya keras untuk mempercepat integrasi jalur ini dengan jaringan MRT Jakarta, mengingat urgensinya. “Ini adalah tindak lanjut dari RPJMN 2025–2029. Kami berinisiasi untuk mendapatkan progres yang lebih cepat karena kalau menunggu satu jalur selesai baru ke jalur berikutnya, waktunya akan sangat lama,” kata Andra, menekankan pentingnya percepatan.
Ia menambahkan, total panjang Jalur MRT Tangerang yang akan melintasi wilayah Banten mencapai sekitar 17 kilometer. Ini secara spesifik mencakup sebagian besar rute Serpong–Lebak Bulus yang berada di dalam yurisdiksi Provinsi Banten.
Meskipun jalur Serpong–Lebak Bulus memiliki total panjang 23 kilometer, sekitar 4 kilometer di antaranya berada di ranah Jakarta. Sisanya, 17 kilometer yang signifikan, akan masuk sepenuhnya ke Provinsi Banten, menunjukkan komitmen besar daerah ini.
Sinergi Antar Pihak dan Tantangan Proyek
Andra Soni menegaskan bahwa pertemuan yang baru saja dilakukan ini bukan merupakan forum pengambilan keputusan akhir. Sebaliknya, ini adalah diskusi awal yang krusial untuk menyatukan langkah dan visi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, dan operator MRT.
“Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh, mulai dari kelembagaan sampai finansial,” ungkap Andra, menyoroti kompleksitas proyek ini. Aspek-aspek ini menjadi pertimbangan utama yang harus dipikirkan bersama secara matang oleh semua pihak terkait agar proyek berjalan lancar.
Pemprov Banten juga aktif menjalin komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. DKI Jakarta memiliki pengalaman luas dan berharga dalam pengelolaan MRT, yang sangat relevan dan dapat menjadi pelajaran penting bagi proyek ini di Banten.
“Saya sudah beberapa kali berdiskusi dengan Pak Gubernur DKI Jakarta, Pak Pramono, dan memberikan dukungan kepada beliau karena MRT ini adalah perseroda milik Jakarta,” jelas Andra. Ia memastikan pertemuan serupa akan terus dilakukan untuk memperkuat kolaborasi antarpihak, demi percepatan pembangunan Jalur MRT Tangerang.
Sumber: AntaraNews