Terungkap, Biang Kerok Stok Beras di Pasar Ritel Modern Menipis
Ketua Satuan Tugas Pangan Polri, Helfi Assegaf, menjelaskan mengapa beras premium masih sulit ditemukan di pasar ritel.
Stok beras di pasar ritel modern menipis,. Satuan Tugas Pangan Polri mengungkap penyebabnya.
Ketua Satuan Tugas Pangan Polri, Helfi Assegaf, mengatakan penyebab berkurangnya pasokan beras premium di pasar ritel modern, salah satu faktornya adalah ketidakberanian produsen untuk menambah stok di toko-toko.
Helfi menambahkan bahwa produsen enggan menambah pasokan karena khawatir akan ditindak oleh Satgas Pangan, menyusul adanya isu penjualan beras yang tidak memenuhi standar mutu dan kualitas, termasuk beras oplosan yang sedang ramai diperbincangkan.
“Memang ada penurunan (stok beras). Otomatis, karena informasinya mereka melakukan penarikan. Bukan penarikan, tapi menghabiskan stok yang ada di ritel dan tidak mengisi kembali. Apa masalahnya, kita dalami kembali. Kenapa tidak kamu mengisi? 'Kami takut, Pak, nanti ditangkap',” ungkap Helfi di Kantor Ombudsman, seperti yang dikutip pada Rabu (27/8).
Padahal, jika produsen menjual beras sesuai dengan informasi yang tertera pada kemasan dan mematuhi aturan yang berlaku, Satgas Pangan tidak akan melakukan penindakan hukum.
Helfi menegaskan bahwa produsen dapat membuktikan kepatuhan mereka melalui hasil uji laboratorium mengenai mutu beras. “Saya kira kalau kalian sesuai dengan apa yang kamu tempel di label, ya enggak ada masalah. Perizinanmu ada, semuanya ada. Terus apa masalahnya? Karena kalian takut sendiri menjual yang tidak sesuai komposisi,” jelasnya.
Selain itu, Helfi menambahkan bahwa jika produsen tidak ingin menjual dalam kemasan, mereka diperbolehkan untuk menjual secara curah, meskipun tetap harus mematuhi standar yang telah ditetapkan. “Dan itu sudah kita sampaikan ke para produsen,” tutupnya.
Masalah yang rumit
Helfi mengungkapkan permasalahan lain yang dihadapi terkait kelangkaan beras. Ia menyoroti kendala yang dialami oleh Perum Bulog, yang tidak dapat sembarangan menyuplai beras untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) ke toko ritel modern. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kerja sama antara Bulog dan pihak ritel.
Selain itu, meskipun telah ada kesepakatan, banyak toko ritel yang belum melakukan pemesanan kepada Bulog karena mereka belum menerima arahan yang jelas. "Macam-macam lagi masalahnya. Jadi tidak semudah yang kita lihat gitu. Jadi butuh memang waktu, butuh proses, yang sudah pegang izin kerja sama pun tidak mengajukan PO. 'Pak, segera mengajukan PO-nya'. 'Ya Pak, kami belum ada instruksi'. Masih ada lagi. Jadi memang cukup panjang," tutur Helfi.
Dipastikan Stok Beras Aman dalam Waktu Dekat
Helfi berkomitmen untuk memastikan setiap langkah yang diambilnya dapat memenuhi kebutuhan stok beras di toko ritel modern. Dia yakin bahwa dalam waktu dekat, pasokan beras akan segera tersedia kembali di pasaran.
"InsyaaAllah, dalam waktu beberapa hari ini akan segera dipenuhi oleh rekan-rekan dari Bulog untuk pengisian beras SPHP yang kualitasnya juga tidak kalah," ucapnya. Helfi juga menegaskan bahwa baik beras SPHP maupun yang komersial memiliki kualitas yang baik. "Saya kira tidak ada masalah. Ini yang kita harapkan," tambah Helfi.
Penghasil beras tidak memiliki laboratorium
Sebelumnya, Helfi Assegaf selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri mengungkapkan bahwa terdapat produsen yang tidak memiliki laboratorium untuk menguji mutu kualitas beras. Meskipun demikian, mereka tetap menjual produk tersebut dengan label beras premium. Hasil uji laboratorium sangat penting untuk memastikan bahwa kualitas beras sesuai dengan label premium yang tertera pada kemasan. "Mereka menjual kemasan, tapi tidak punya lab. Artinya beras yang diproduksi ya sudah asal jadinya berapa saya tidak tahu, yang penting 'saya jual premium'," ungkap Helfi dalam diskusi di Kantor Ombudsman, Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Pernyataan ini menunjukkan adanya masalah serius dalam industri beras, di mana beberapa produsen berani mengklaim produk mereka berkualitas tinggi tanpa melakukan uji coba yang diperlukan. Hal ini tentunya dapat merugikan konsumen yang mengharapkan kualitas sesuai dengan label yang tertera. Ketiadaan laboratorium uji membuat proses produksi beras tersebut tidak transparan dan berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi pihak berwenang untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap produsen beras agar konsumen tidak tertipu oleh label yang menyesatkan.