Pemkab Bekasi Genjot Percepatan Normalisasi Sungai Demi Cegah Banjir dan Kekeringan
Pemerintah Kabupaten Bekasi mempercepat program Percepatan Normalisasi Sungai Bekasi, khususnya CBL dan Ciherang, sebagai langkah mitigasi banjir tahunan dan kekeringan lahan pertanian. Simak prioritas dan tantangan pelaksanaannya.
Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengambil langkah proaktif dengan mempercepat tahapan kegiatan normalisasi sungai pada titik-titik prioritas. Upaya ini dilakukan sebagai penanganan komprehensif guna mencegah siklus banjir tahunan yang kerap melanda wilayah tersebut. Selain itu, normalisasi sungai juga bertujuan menyelamatkan areal pertanian dari potensi kekeringan, memastikan keberlanjutan sektor pangan lokal.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln, mengungkapkan adanya pergeseran waktu pelaksanaan kegiatan. Normalisasi sungai yang biasanya baru bisa dikerjakan pada triwulan ketiga setiap tahun berjalan, kini diajukan untuk dapat dimulai pada triwulan pertama.
Pengajuan percepatan ini telah dilaporkan kepada Plt. Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, demi optimalisasi penanganan pascabencana. Pimpinan daerah juga telah memberikan arahan untuk mempercepat pelaksanaan kegiatan.
Prioritas Penanganan dan Lokasi Utama Percepatan Normalisasi Sungai Bekasi
Fokus penanganan Percepatan Normalisasi Sungai Bekasi diarahkan pada Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) dan Sungai Ciherang. Kedua aliran sungai ini berperan sangat penting dalam mengendalikan banjir di wilayah hilir, khususnya di kawasan permukiman padat penduduk.
Henri Lincoln menegaskan bahwa langkah percepatan normalisasi ini menjadi prioritas utama dalam mitigasi bencana banjir. Meskipun penyelesaian secara menyeluruh belum dapat dilakukan dalam waktu dekat, pengangkatan sedimentasi dan perbaikan tanggul diharapkan mampu mengurangi potensi dan dampak banjir secara signifikan.
Kajian dan perencanaan untuk kegiatan ini masih dalam proses melalui Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air SDABMBK serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Tim telah melakukan kajian teknis untuk menentukan titik prioritas, termasuk wilayah Kecamatan Sukawangi, Tambun Utara, dan Babelan yang paling parah terdampak banjir.
Agung Mulya, Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air pada Dinas SDABMBK Kabupaten Bekasi, menjelaskan bahwa Sungai CBL sudah tidak memungkinkan menampung air saat banjir kemarin, sehingga normalisasi diperlukan untuk memperlancar aliran air. Sementara itu, Sungai Ciherang juga berpotensi mengalami luapan, sehingga perlu dinormalisasi serta ditinggikan tanggulnya.
Kolaborasi dan Tantangan Anggaran dalam Normalisasi
Kedua aliran sungai besar, CBL dan Ciherang, merupakan kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Oleh karena itu, Pemkab Bekasi menjalin koordinasi erat dengan BBWS untuk menyusun nota kesepahaman kerja sama.
BBWS dalam hal ini akan memberikan rekomendasi teknis, sementara pelaksanaan kegiatan akan dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi. Pola kerja sama ini serupa dengan yang sudah diterapkan pada pembangunan Bendungan BSH-0, menunjukkan sinergi antara pemerintah daerah dan pusat dalam pengelolaan sumber daya air.
Meskipun demikian, pelaksanaan normalisasi sungai akan tetap dilanjutkan di tengah keterbatasan keuangan daerah. Pemangkasan anggaran tahun ini cukup besar, sehingga realisasi kegiatan diproyeksikan hanya mencapai 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, jumlah kegiatan normalisasi yang dapat dilaksanakan tahun ini diperkirakan kurang dari 20 kegiatan normalisasi sungai. Hal ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi Pemkab Bekasi dalam mewujudkan Percepatan Normalisasi Sungai Bekasi secara optimal.
Manfaat Jangka Panjang Percepatan Normalisasi Sungai Bekasi
Percepatan Normalisasi Sungai Bekasi tidak hanya berfokus pada penanganan banjir di permukiman padat penduduk, tetapi juga memiliki manfaat jangka panjang bagi sektor pertanian. Selain arahan pimpinan terkait penanganan banjir, Pemkab Bekasi juga berupaya melaksanakan normalisasi sungai pada wilayah pertanian untuk mengatasi kekeringan pada musim kemarau.
Pengangkatan sedimentasi dan perbaikan tanggul akan memperlancar aliran air, mengurangi risiko luapan saat musim hujan dan memastikan ketersediaan air untuk irigasi saat musim kemarau. Ini adalah upaya mitigasi bencana yang berkelanjutan, melindungi masyarakat dan perekonomian lokal.
Normalisasi Sungai CBL dan Ciherang direncanakan secara bertahap mengingat panjang aliran hingga ke muara. Penentuan segmentasi prioritas dalam kegiatan normalisasi ini melalui hasil koordinasi bersama BBWS, memastikan efektivitas dan efisiensi dalam setiap tahapan pelaksanaan.
Sumber: AntaraNews