Michela Allocca, Usia 30 Tahun Punya Harta Rp10 Miliar Berkat 4 Kebiasaan Ini
Kadang-kadang seseorang harus melakukan pengorbanan sementara untuk menjaga kestabilan finansial, meskipun orang-orang di sekitarnya terus berbelanja.
Konsultan keuangan pribadi yang berasal dari Chicago, Michela Allocca, membagikan kisah perjalanan finansialnya yang membawanya meraih kekayaan bersih lebih dari USD 700.000, atau sekitar Rp 10,6 miliar, pada usia 30 tahun.
Dikutip dari CNBC Make It pada Senin (18/8), Allocca menyatakan bahwa kadang-kadang seseorang harus melakukan pengorbanan sementara untuk menjaga kestabilan finansial, meskipun orang-orang di sekitarnya terus berbelanja.
"Kita sering merasa bahwa jika tidak memiliki sesuatu di awal usia 20-an, kita tidak akan pernah punya," ungkap Allocca, penulis buku *Own Your Money*.
"Padahal sering kali itu hanya hal-hal yang menjadi simbol status, bukan sesuatu yang benar-benar kita pedulikan," tambahnya.
Dalam sebuah postingan di LinkedIn, Allocca menguraikan empat kebiasaan pengeluaran yang ia hindari di awal kariernya, serta alternatif yang ia pilih. Berikut adalah penjelasannya:
Tidak Banyak Bepergian
Allocca menyadari bahwa ada tekanan sosial yang kuat untuk bepergian di usia 20-an, baik untuk memperluas wawasan maupun sekadar mengikuti tren. Banyak anak muda melakukan perjalanan besar setelah lulus kuliah tanpa mempertimbangkan biaya karena beranggapan 'uang akan selalu datang'.
Namun, menurutnya, bahkan liburan dengan anggaran rendah pun bisa menghabiskan biaya antara USD 1.000 hingga 2.000. Data yang dirilis pada bulan Januari oleh perusahaan kredit Experian menunjukkan bahwa dalam satu perjalanan, Generasi Z dapat menghabiskan rata-rata USD 1.600 per bulan, yang setara dengan sewa satu bulan.
Pada usia 22 tahun, dengan penghasilan USD 60.000 per tahun di Boston, Allocca merasa harga tiket pesawat terlalu mahal untuk penghasilannya. Oleh karena itu, dia memilih untuk melakukan liburan domestik yang lebih terjangkau. Hanya di akhir usia 20-an, termasuk perjalanan ke Jepang, dia mulai merencanakan dan menganggarkan liburan besar dengan lebih matang.
Meskipun saat ini dia bepergian dengan cara yang dia inginkan, dia menekankan bahwa 'wajar dan tidak apa-apa' bagi orang-orang di usia 20-an untuk menunda perjalanan sampai mereka mampu membayar biayanya.
"Kalau saya liburan, itu harus benar-benar karena saya ingin, bukan karena merasa tertekan untuk pergi," tegasnya.
Hindari Tinggal Sendiri Sampai Usia 27 Tahun
Allocca memilih untuk tidak hidup sendirian selama sebagian besar usia dua puluhannya, baik saat berbagi kamar mandi dengan tiga teman sekamar maupun ketika kembali tinggal bersama orang tuanya selama pandemi Covid-19.
"Saya bisa menabung rata-rata USD 1.000 per bulan karena tidak menghabiskan semua uang untuk sewa, dan itu membantu saya lebih cepat berinvestasi," ungkapnya.
Dia berpendapat bahwa media sosial memberikan harapan yang tidak realistis kepada generasi muda. Dalam kota besar seperti New York atau San Francisco, seseorang perlu memiliki penghasilan lebih dari USD 100.000 per tahun agar biaya sewa tidak melebihi 30 persen dari total pendapatan.
"Saya kasihan pada Gen Z, persepsi mereka tentang apa yang normal di usia mereka sangat bias," katanya.
Pada usia 27 tahun, dia akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri, meskipun harus menghadapi kenaikan sewa sekitar USD 1.000 per bulan. Keputusan ini diambil setelah dia yakin bahwa pendapatannya dapat menutupi biaya sewa tanpa mengganggu rencana keuangannya.
Hindari Membeli Pakaian Secara Impulsif
Di awal usia 20-an, Allocca memiliki kebiasaan membeli pakaian yang sama dalam berbagai warna. Kebiasaan ini membantunya untuk mempertahankan beberapa warna yang dia gunakan secara konsisten, sehingga memudahkan dalam memadupadankan dengan berbagai item lainnya.
Dia juga sering berbelanja di toko-toko dengan harga terjangkau seperti Primark dan Old Navy, "Dengan begitu, ketika Anda menggunakan skema warna tertentu, Anda dapat lebih mudah mencocokkan pakaian Anda dengannya," kata Allocca.
Strategi ini membantu Allocca untuk mengurangi pengeluaran dalam hal pakaian. "Berbelanja bukanlah salah satu prioritas saya dalam hal uang," ungkapnya.
"Saya akan pergi ke toko-toko dengan harga murah agar saya mampu membeli barang termurah."
Saat ini, dia menerapkan prinsip yang sama pada apa yang dia sebut sebagai lemari pakaian kapsul (Capsule Wardrobe), yang terdiri dari barang-barang dasar yang dapat dipadukan dengan sebagian besar koleksi yang sudah ia miliki di lemari.
Dia menjelaskan tentang keyakinannya dalam berinvestasi pada barang berkualitas tinggi yang diyakininya akan bertahan lama. Salah satu contohnya adalah sweater kasmir seharga sekitar USD 450, yang kini menjadi item termahal di lemarinya. Dengan pendekatan ini, Allocca menunjukkan bahwa meskipun ia berbelanja dengan bijak, ia tetap menghargai kualitas dan keawetan barang yang ia pilih.
Jangan Membayar untuk Hal Tidak Perlu
Di usia dua puluhan, Allocca memilih untuk tidak mengeluarkan uang untuk kenyamanan yang sebenarnya bisa dilakukannya sendiri. Misalnya, meskipun jarak ke kantor hanya 30 menit dengan berjalan kaki, dia lebih suka berjalan dari pada menggunakan transportasi umum atau layanan ride-hailing.
"Saya tidak pernah naik Uber tanpa alasan, tidak pernah pesan antar," tulisnya di LinkedIn.
Dia berpendapat bahwa waktu yang seharusnya dihemat dengan layanan tersebut tidak digunakan untuk kegiatan produktif, sehingga lebih baik jika dia melakukannya sendiri. Bahkan saat ingin makan di luar, dia hanya memilih restoran yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
"Kalau saya tidak mau jalan untuk mengambilnya, berarti saya masak sendiri di rumah," ujarnya.
Hingga saat ini, dia jarang mengeluarkan uang untuk kenyamanan, kecuali dalam situasi darurat, seperti memesan bahan makanan setelah melakukan perjalanan panjang. Dengan menghindari biaya untuk kenyamanan dan menjaga biaya sewa tetap rendah, dia berhasil menghemat sekitar USD 200 setiap bulan, yang merupakan angka signifikan untuk tabungannya di usia dua puluhan.
"Kalau saya melihat ke belakang, saya tidak menyesali semua ini," pungkasnya.
Pendekatan ini tidak hanya membantunya menghemat uang, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup yang lebih mandiri dan disiplin dalam pengelolaan keuangan.