Menteri PU: Jalan Layang Sitinjau Lauik Didesain Tahan Gempa
Selain itu, Menteri PU juga meminta BPJN untuk menyiapkan rest area di Jalan Layang Sitinjau Lauik dengan turut mempertimbangkan kondisi masyarakat sekitar.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) ,Dody Hanggodo meminta Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) untuk lebih memperhatikan desain Flyover atau Jalan Layang Sitinjau Lauik yang akan menghubungkan Kota Padang dan Solok, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) agar sesuai untuk daerah rawan gempa.
"Mengingat Sumbar merupakan daerah rawan gempa, jadi apapun yang dibangun termasuk infrastruktur besar seperti jembatan, jalan dan sebagainya harus sesuai dengan tata kelola yang ada," kata Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo seperti dikutip dari Antara Padang, Sumbar, Sabtu (3/5).
Dia mengatakan nantinya BPJN mendiskusikan terkait hal tersebut dengan Kementerian Pekerjaan Umum serta pihak-pihak terkait lainnya di Jakarta demi keamanan serta kesesuaian pembangunan.
Selain itu, Menteri PU juga meminta BPJN untuk menyiapkan rest area di Jalan Layang Sitinjau Lauik dengan turut mempertimbangkan kondisi masyarakat sekitar. Dengan kata lain mampu mendukung usaha mikro kecil dan menengah setempat.
"Jadi walaupun ini membuat sesuatu yang bagus, yang baru, namun masyarakat sekitar yang terdampak langsung projek ini jangan sampai kelaparan," jelasnya.
Secara umum, dia mengatakan pembangunan Jalan Layang Sitinjau Lauik pada dasarnya memiliki tujuan agar masyarakat Sumbar dari waktu ke waktu dapat memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik.
Apalagi ruas jalan tersebut merupakan ruas utama untuk masuk ke Pelabuhan Teluk Bayur sehingga seharusnya mampu meningkatkan sisi perekonomian masyarakat Kota Padang dan sekitarnya.
Walaupun memang di sisi lain, ia mengakui adanya proyek pembangunan Jalan Layang Sitinjau Lauik diawali dari upaya mengurangi kecelakaan yang selama ini sering terjadi di ruas jalan tersebut.
"Semoga pada tahun ini pembangunan konstruksi flyover benar-benar dapat terlaksana," ujarnya.
Pemerintah Mulai Bangun Flyover Sitinjau Lauik I, Nilai Investasi Rp2,79 Triliun
PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) yang dibentuk oleh Konsorsium PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) dan PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) melaksanakan Groundbreaking Pembangunan Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I) pada hari ini, Sabtu (3/5) di Lubuk Paraku, Kota Padang.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan, pembangunan proyek Flyover Sitinjau Lauik I ini dilakukan melalui kerja sama pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Saat ini, pemerintah masih terus melakukan pembebasan lahan untuk kelancaran proses pembangunan.
"Meskipun sudah dilaksanakan groundbreaking, akan tetapi masih ada proses pembebasan lahan dan persetujuan desain yang mungkin dalam beberapa bulan kedepan belum ada pekerjaan konstruksi yang signifikan,” ujar Dody di lokasi.
Di menyebut pembangunan proyek Flyover Sitinjau Lauik I ini memiliki nilai investasi sebesar Rp 2,79 triliun. Proyek ini memiliki masa konsesi 12,5 tahun yang terbagi menjadi 2,5 tahun masa konstruksi dan 10 tahun masa layanan.
"Setelah groundbreaking ini, HPSL akan melanjutkan proses tender kontraktor pelaksana dan menyelesaikan penyusunan desain yang dilanjutkan dengan proses konstruksi," ucapnya.
Direktur HPSL, Michael AP Rumenser, menjelaskan bahwa proyek ini telah memasuki fase formal dengan diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) pada 14 April 2025 yang menandai dimulainya tanggal efektif KPBU. Dengan ini, persiapan pembangunan proyek ini sudah resmi berjalan.
“Setelah tanggal efektif 14 April 2025, maka Direktorat Jenderal Bina Marga sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) akan memproses terkait pembebasan lahan," ucapnya.