Kementan Perkuat Pengendalian PMK di Lampung Timur Melalui Vaksinasi dan Biosekuriti
Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat upaya pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Lampung Timur dengan fokus pada percepatan vaksinasi dan penerapan biosekuriti ketat, memastikan populasi ternak terlindungi dan penyebaran penyakit dapa
Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah proaktif dalam mengendalikan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah Lampung Timur. Pengendalian ini difokuskan pada penguatan vaksinasi serta penerapan biosekuriti yang ketat, dengan tujuan utama menekan laju penyebaran penyakit dan melindungi populasi ternak dari risiko penularan. Langkah strategis ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan hewan dan keberlangsungan sektor peternakan nasional.
Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menegaskan bahwa percepatan vaksinasi yang terencana dan terdistribusi dengan baik merupakan kunci utama. Pemerintah menjamin ketersediaan vaksin yang aman, bermutu, dan tepat waktu sebagai bagian dari peta jalan pengendalian PMK secara nasional. Hal ini disampaikan Hendra dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu, menyoroti pentingnya intervensi cepat dalam penanganan PMK.
Penanganan PMK di Desa Tegal Yoso, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur, dilaporkan dalam kondisi terkendali berkat intervensi cepat yang dilakukan sejak awal. Tindakan ini terbukti efektif dalam menekan penyebaran dan mempercepat pemulihan ternak milik peternak rakyat. Berdasarkan investigasi terbaru, kasus yang beredar merupakan akumulasi kejadian sejak Februari hingga Maret 2025, bukan kasus baru di tahun 2026 ini.
Strategi Vaksinasi dan Biosekuriti Kementan
Vaksinasi PMK menjadi pilar utama dalam strategi pengendalian Kementan di Lampung Timur. Hendra Wibawa menekankan bahwa vaksinasi adalah langkah strategis dan krusial untuk menekan penyebaran penyakit. Ketersediaan vaksin yang terjamin oleh pemerintah memastikan program imunisasi dapat berjalan lancar dan menjangkau seluruh ternak yang membutuhkan perlindungan.
Selain vaksinasi, penerapan biosekuriti secara disiplin juga menjadi kunci utama. Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, mengimbau peternak untuk tetap tenang dan disiplin dalam menerapkan langkah pengendalian di kandang, termasuk isolasi ternak sakit dan pembatasan lalu lintas ternak. Penerapan biosekuriti yang ketat dapat mencegah masuknya patogen ke peternakan dan meminimalkan risiko penularan antarternak.
Untuk Provinsi Lampung, pada tahun 2026 telah dialokasikan sebanyak 338.000 dosis vaksin PMK yang akan dibagi dalam dua periode vaksinasi. Periode pertama berlangsung Januari-Maret dan periode kedua Juli-September, masing-masing sebanyak 169.000 dosis. Hingga pertengahan Maret 2026, pemerintah telah mendistribusikan 169.000 dosis vaksin ke Provinsi Lampung, terdiri dari 100.000 dosis pada Januari-Februari dan tambahan 69.000 dosis pada pertengahan Maret.
Khusus untuk Kabupaten Lampung Timur, telah disalurkan 6.500 dosis vaksin dengan realisasi penyuntikan mencapai 5.124 dosis atau sekitar 78 persen. Pemerintah juga berencana menambah alokasi sebanyak 6.000 dosis untuk mempercepat perlindungan ternak di wilayah tersebut. Mayoritas kasus PMK yang ditemukan terjadi pada ternak yang belum divaksinasi, meskipun komunikasi, informasi, dan edukasi telah diberikan kepada peternak sebelumnya.
Penanganan Kasus dan Dukungan Teknis di Lapangan
Hasil investigasi petugas Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Timur pada Senin, 23 Maret 2026, menunjukkan bahwa kasus PMK yang beredar merupakan akumulasi kejadian sejak Februari hingga Maret 2025. Dari penelusuran lapangan, tercatat sebanyak 135 ekor ternak terdampak, dengan 25 ekor kematian. Sebagian besar kematian terjadi pada pedet (anak sapi) yang induknya bergejala PMK, sementara satu kasus pada sapi dewasa terindikasi PMK, dan dua kematian lainnya dipastikan bukan akibat PMK.
Langkah cepat pemerintah dalam penanganan kasus telah menunjukkan hasil nyata. Penanganan berupa pelayanan kesehatan hewan, penyemprotan disinfektan, pemberian obat dan vitamin, serta penguatan edukasi telah berdampak pada kesembuhan ternak. Tim medis dan paramedis juga telah diturunkan untuk memperkuat penanganan di lokasi, memastikan setiap ternak mendapatkan perawatan yang optimal.
Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat investigasi epidemiologis dan dukungan teknis. Balai Veteriner Lampung telah melakukan penelusuran kasus, wawancara dengan petugas dan peternak, serta pengambilan sampel pada hewan sakit dan bangkai ternak. Penguatan surveilans dan konfirmasi laboratorium juga dilakukan untuk memastikan diagnosis serta mempercepat pengendalian.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Provinsi Lampung, Anwar Bahri, menyatakan bahwa tim provinsi bersama kabupaten terus melakukan pendampingan di lapangan. Pendampingan ini mencakup penguatan biosekuriti, percepatan disinfeksi, serta edukasi kepada peternak. Anwar juga mendorong percepatan vaksinasi sebagai langkah kunci untuk meningkatkan kekebalan ternak dan mencegah penyebaran lebih luas.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Lampung Timur, Dwi Giyarti, menyampaikan bahwa penanganan telah dilakukan sejak awal laporan diterima. Pihaknya juga telah melakukan sosialisasi kepada peternak, penyemprotan disinfektan, serta pengobatan suportif berupa pemberian vitamin dan terapi sesuai petunjuk teknis. Koordinasi antarinstansi menjadi krusial dalam menghadapi tantangan penyebaran PMK.
Sumber: AntaraNews