Kabar Mengejutkan: Starbucks Bakal PHK Karyawan Mulai Maret 2025
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar perusahaan untuk kembali meningkatkan performa bisnis mereka yang sempat mengalami tekanan.
Kabar mengejutkan datang dari Starbucks, salah satu jaringan kedai kopi terbesar di dunia. Dalam upaya beroperasi lebih efisien, CEO Starbucks, Brian Niccol, mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja yang akan dimulai pada Maret 2025.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar perusahaan untuk kembali meningkatkan performa bisnis mereka yang sempat mengalami tekanan.
Niccol menyebut, keputusan ini tidak diambil dengan mudah. Dalam sebuah surat yang diunggah di situs resmi Starbucks, dia menegaskan pentingnya transparansi kepada para karyawan.
"Saya tidak menganggap enteng keputusan ini, dan saya memahami bahwa ini akan menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran antara sekarang dan nanti. Saya ingin bersikap transparan tentang kemajuan dan rencana kami serta memastikan bahwa Anda mendengar tentang pekerjaan ini langsung dari saya," tulisnya dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (21/1).
Siapa yang Akan Terkena Dampak?
Menurut data perusahaan, hingga 29 September 2024, Starbucks mempekerjakan sekitar 361.000 karyawan di seluruh dunia, termasuk 211.000 karyawan di Amerika Serikat.
Mayoritas dari mereka adalah pekerja di gerai-gerai Starbucks, yang dipastikan tidak akan terdampak PHK ini. Namun, sekitar 10.000 posisi pendukung perusahaan yang tersebar di bidang pengembangan toko, manufaktur, pergudangan, hingga distribusi diprediksi akan terpengaruh.
Langkah Menuju Transformasi
Sejak menjabat pada September 2024, Niccol telah melakukan sejumlah perubahan, seperti mengembalikan fasilitas bumbu gratis di gerai dan menghapus biaya tambahan untuk susu alternatif.
Dia juga menetapkan target ambisius untuk menyajikan minuman dalam waktu empat menit atau kurang serta menambah shift di lebih dari 3.000 gerai di AS.
Meskipun keputusan PHK ini menuai pro dan kontra, Niccol tetap optimis terhadap prospek kinerja perusahaan.
"Kami masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi saya senang dengan kemajuan yang telah kami buat," jelasnya.
Harapan Baru di Tengah Ketidakpastian
Analis Deutsche Bank, Lauren Silberman, menyebut langkah ini sebagai bagian awal dari strategi pemulihan Starbucks. Dia memprediksi bahwa peningkatan lalu lintas pelanggan dalam beberapa bulan ke depan, yang didukung inovasi dan pemasaran, akan menjadi katalis utama untuk membangkitkan pertumbuhan penjualan perusahaan.
Namun, saham Starbucks masih menghadapi tantangan besar. Tahun lalu, kinerja saham Starbucks tertinggal jauh dibandingkan indeks S&P 500, dengan kenaikan kurang dari 4 persen dibandingkan 26,5 persen dari indeks tersebut.
Dengan berbagai upaya transformasi dan langkah kontroversial ini, Starbucks diharapkan mampu kembali ke jalur pertumbuhan.
Namun, pertanyaannya tetap, apakah strategi ini cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar sekaligus mempertahankan loyalitas karyawan? Maret 2025 akan menjadi momen krusial bagi raksasa kopi berusia 53 tahun ini.