Jadi Motor Penggerak Ekonomi Desa, Perkebunan Rakyat Serap 45 Persen Pekerja Sektor Pertanian
Sektor perkebunan, baik yang dimiliki oleh masyarakat maupun swasta, memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja.
Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTPR) menunjukkan perkembangan positif pada kuartal pertama tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa NTPR mencapai angka 165,66 pada bulan Maret 2025, meningkat dari 165,51 yang tercatat pada bulan Februari.
Kenaikan ini didorong oleh bertambahnya harga beberapa komoditas unggulan, terutama kelapa sawit, karet, dan tembakau. Dengan pencapaian ini, subsektor perkebunan rakyat menjadi kontributor utama pertumbuhan dibandingkan subsektor pertanian lainnya.
Dari segi tahunan, pertumbuhan NTPR menunjukkan angka yang sangat signifikan. Rata-rata NTPR untuk periode Januari hingga Maret 2025 tercatat sebesar 165,00, mengalami lonjakan sebesar 20,41 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 yang hanya mencapai 137,03.
Lonjakan ini tidak hanya mencerminkan pemulihan ekonomi di sektor perkebunan, tetapi juga menunjukkan peningkatan daya saing petani perkebunan rakyat baik di pasar domestik maupun internasional.
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menekankan pentingnya kontribusi perkebunan rakyat dalam mendukung pemerataan ekonomi di daerah pedesaan. Dia berpendapat bahwa sektor perkebunan, baik yang dimiliki oleh masyarakat maupun swasta, memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja dan dapat memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat desa jika dikelola dengan baik.
"Petani rakyat kita harus dibantu oleh pemerintah, khususnya dalam bentuk subsidi pra panen seperti pupuk, sarana produksi, dan alat mesin pertanian," ujarnya.
Dukungan tersebut, menurutnya, dapat mengurangi beban produksi para petani dan meningkatkan pendapatan mereka, terutama ketika harga hasil panen sedang tinggi. Dengan demikian, hal ini akan berkontribusi pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi indikator kesejahteraan petani.
Selain itu, Daniel juga menyoroti pentingnya industri hasil tembakau serta industri makanan dan minuman sebagai sektor yang padat karya dan memerlukan perlindungan karena keterkaitannya yang erat dengan sektor pertanian.
"Industri padat karya ini harusnya dilindungi karena jelas-jelas menyediakan lapangan kerja bagi warga. Industri yang menyerap tenaga kerja harus mendapat perlindungan dari pemerintah," ujarnya.
Dia percaya bahwa menjaga keberlangsungan industri ini sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian lokal, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terjaga dengan baik.
Pentingnya Jaga Keberlanjutan
Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan industri domestik dengan memastikan ketersediaan bahan baku hasil pertanian.
Eliza mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang dapat menjamin keberlangsungan sektor ini. Dia berpendapat bahwa tanpa dukungan regulasi yang kuat, upaya hilirisasi yang saat ini tengah digalakkan oleh pemerintah akan sulit untuk dicapai.
Eliza menjelaskan bahwa sektor perkebunan merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian Indonesia, karena sektor ini mampu menyerap sekitar 45 persen tenaga kerja di bidang pertanian. Secara keseluruhan, sektor pertanian menyumbang sekitar 38 persen dari total tenaga kerja nasional, dan sektor perkebunan sendiri berkontribusi sebesar 3-4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Lebih lanjut, Eliza menyoroti peran penting perkebunan rakyat sebagai penopang utama aktivitas ekonomi di pedesaan.
"Aktivitas perkebunan rakyat memang menciptakan efek multiplier (berganda) yang baik untuk pengembangan perekonomian di desa dan juga pertumbuhan sektor-sektor jasa pendukung," jelasnya.
Industri Produksi Hasil Tembakau
Sejalan dengan pernyataan Daniel, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan di Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun Kementan), Baginda Siagian, menekankan pentingnya industri hasil tembakau sebagai sektor padat karya yang memiliki peranan strategis dalam perekonomian nasional.
"Industri ini mencakup berbagai tahapan, mulai dari budidaya tembakau hingga produksi produk olahan seperti rokok dan kelengkapannya, dan berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen."
Selain itu, Baginda menambahkan bahwa industri hasil tembakau memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan pajak nasional dan turut menggerakkan ekonomi daerah dengan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama pada sektor sigaret kretek tangan (SKT).
Menurut Baginda, keberadaan industri ini telah menciptakan jutaan lapangan kerja, khususnya di kawasan penghasil tembakau serta pusat produksi rokok.
"Pemerintah harus menjaga kedaulatan dan kebebasan dalam membuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi lokal," katanya.