Investasi USD 600 Juta, TBS Energi Utama Transformasi Menuju Bisnis Berkelanjutan
Peluncuran identitas baru bukan sekadar perubahan visual, melainkan penegasan ulang atas nilai, jati diri, dan arah strategis perusahaan.
PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) resmi memperkenalkan identitas barunya melalui acara TBS Re/Define di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan pada Rabu (12/11). Momentum ini menjadi tonggak penting dalam transformasi TBS dari perusahaan energi konvensional menuju bisnis berorientasi keberlanjutan.
Presiden Direktur dan CEO TBS, Dicky Yordan menyatakan bahwa peluncuran identitas baru bukan sekadar perubahan visual, melainkan penegasan ulang atas nilai, jati diri, dan arah strategis perusahaan.
"Transformasi ini kami jalankan melalui roadmap TBS 2030, dengan fokus pada tiga pilar utama yaitu pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. Kami ingin memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat," kata Dicky.
Identitas baru TBS mengusung filosofi 'For Good and For Growth', sebagai prinsip perusahaan untuk mengembangkan bisnis yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Dalam sesi diskusi, Direktur dan CFO TBS, Juli Oktarina, menjelaskan bahwa logo baru TBS menggambarkan semangat baru perusahaan. Warna hijau dipilih untuk melambangkan arah menuju energi bersih, sementara motif tenun Indonesia yang terinspirasi dari kain Flores dan Toraja mencerminkan akar budaya dan nilai keberagaman yang dijunjung TBS.
"Kami tetap mempertahankan angka 8 dari logo lama karena maknanya yang dalam yaitu simbol infinity, kesinambungan, dan kemakmuran," jelas Juli Oktarina. "Ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang tidak boleh terputus," tambahnya.
Juli Oktarina menegaskan bahwa transformasi ini tidak sekadar simbolik, melainkan langkah nyata menuju bisnis hijau yang memberikan manfaat sosial dan lingkungan.
Investasi USD 600 Juta
TBS mengalokasikan investasi sekitar USD 600 juta hingga 2030 untuk proyek-proyek ramah lingkungan di tiga pilar bisnis utamanya.
"Kami terus beradaptasi dan berinovasi untuk menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan tanggung jawab terhadap planet," kata Juli.
Menutup acara, Dicky Yordan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. "Kolaborasi adalah kunci. Kami mengajak pemerintah, akademisi, dan dunia usaha untuk bersama membangun masa depan energi berkelanjutan bagi Indonesia.”
TBS Foundation, Pilar Sosial untuk Masa Depan Hijau
Sebagai bagian dari transformasi sosial, TBS juga meluncurkan TBS Foundation, dipimpin oleh Anugraha Dezmercoledi (Nuki) sebagai Executive Director TBS Foundation. Yayasan ini berfokus pada tiga pilar yaitu, pendidikan vokasi (Quality Education), kepemimpinan dan advokasi kebijakan (Top Leadership and Policy Advocacy), serta pendanaan berdampak sosial (Impact Capital).
"Kami hadir sebagai pilar social value creation dari TBS. Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, kami ingin memastikan transformasi ini berdampak nyata bagi masyarakat," ucap Nuki.
Dalam diskusi bersama media, Juli Oktarina menegaskan bahwa proses transformasi membutuhkan konsistensi dan kesiapan sumber daya manusia. Cadangan batu bara TBS diperkirakan akan habis dalam satu hingga dua tahun ke depan, dan perusahaan tengah menyiapkan fase transisi energi bersih secara bertahap.
Reporter Magang - Ahmad Subayu