Fakta Unik: TOBA Fokus Ekspansi Bisnis Hijau di Asia Tenggara, Tolak Proyek WTE Danantara
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memprioritaskan ekspansi bisnis hijau ke pasar Asia Tenggara, alih-alih mengikuti proyek waste to energy Danantara Indonesia. Mengapa demikian?
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) secara tegas menyatakan fokusnya untuk memperluas peluang ekspansi ke pasar internasional, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Keputusan strategis ini berarti perseroan tidak akan memprioritaskan keikutsertaan dalam proyek waste to energy (WTE) yang digagas oleh Danantara Indonesia.
Langkah ekspansi bisnis ke pasar Asia Tenggara telah dimulai sejak tahun 2023 melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES), yang kemudian disusul dengan akuisisi CORA Environment pada awal tahun 2025. Inisiasi bisnis pengelolaan limbah ini telah menunjukkan hasil nyata dan prospek yang semakin menjanjikan bagi perusahaan.
Menurut SVP Corporate Finance and Investor Relations TOBA, Mirza Rinaldy Hippy, kemajuan bisnis pengelolaan limbah ini menjadi keunggulan sekaligus peluang besar bagi TBS. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk membentuk platform pengolahan limbah regional di Asia Tenggara melalui ekspansi ke pasar internasional, menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Fokus Strategis Ekspansi Bisnis Hijau di Asia Tenggara
Mirza Rinaldy Hippy menjelaskan bahwa bisnis pengolahan limbah di pasar internasional Asia Tenggara memiliki potensi yang sangat menarik. Oleh karena itu, keikutsertaan dalam proyek waste to energy yang dijalankan oleh Danantara Indonesia tidak menjadi prioritas utama bagi perseroan saat ini.
TOBA secara aktif menjajaki peluang investasi dan akuisisi bisnis hijau di berbagai negara regional, termasuk Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Selain melalui akuisisi, perseroan juga melakukan ekspansi organik dengan mengalokasikan belanja modal untuk penambahan kapasitas pengelolaan dan pembangunan fasilitas daur ulang baru di Singapura.
Aspirasi TOBA adalah menjadi pemain global yang menegaskan transformasi bisnis mereka. Perusahaan ini bertekad untuk sepenuhnya fokus pada bisnis hijau dan energi bersih yang berdampak positif serta berkelanjutan, sekaligus diharapkan dapat membawa nama Indonesia di kancah internasional dalam bidang energi terbarukan.
Kontribusi Bisnis Pengelolaan Limbah yang Signifikan
TOBA telah menyiapkan anak usahanya, CORA Environment, sebagai salah satu jangkar bisnis utama. Entitas ini sebelumnya dikenal sebagai SembWaste dan Sembcorp Environment sebelum diakuisisi TOBA pada awal tahun 2025, dan diproyeksikan akan menggantikan bisnis batu bara yang akan ditinggalkan sepenuhnya pada tahun 2030.
CORA Environment merupakan perusahaan regional Asia Tenggara yang berbasis di Singapura, dengan fokus pada bisnis ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah. Per September 2025, segmen pengelolaan limbah TBS berhasil membukukan pendapatan sebesar 111,92 juta dolar AS. Angka ini menyumbang sekitar 39 persen dari total pendapatan konsolidasi dan 88 persen dari adjusted EBITDA perusahaan.
Dari aspek operasional, CORA Environment di Singapura dan Indonesia mengelola hampir 1 juta ton limbah per tahun, melayani lebih dari 470 ribu pelanggan serta ribuan perusahaan. Selain itu, Asia Medical Enviro Services (AMES) telah memproses lebih dari 3 ribu ton limbah rumah sakit di Singapura, sementara ARAH Environmental mengelola lebih dari 6.000 ton limbah rumah sakit dan domestik di Indonesia. Keberhasilan ini mendorong TBS untuk terus berekspansi ke negara-negara lain seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Alasan TOBA Tidak Ikut Proyek Danantara
Meski memiliki kapabilitas dan kapasitas yang mumpuni untuk mengikuti tender Danantara Indonesia, TOBA memilih untuk tidak berpartisipasi. Analis Mirae Sekuritas, Farras Farhan, mengapresiasi keputusan TOBA yang memilih jalan sendiri dalam pengembangan proyek energi hijau berbasis limbah.
Farras menilai, "Ketidakikutsertaan TBS dalam tender proyek WTE Danantara merupakan bentuk kedisiplinan good governance yang dapat menganulir terbentuknya persepsi conflict of interest mengingat eks-wadirut sekarang menjabat CIO Danantara. Ini sesuatu yang positif karena menunjukkan keteladanan." Keputusan ini menunjukkan fokus strategis perseroan untuk memperkuat portofolio bisnis yang sudah matang.
Menurut Farras, CORA Environment telah melewati tahap pembentukan model bisnis dan integrasi teknologi pengelolaan limbah. Dengan rekam jejaknya dari SembWaste dan Sembcorp Environment, CORA memiliki pengalaman operasional regional yang kuat. Oleh karena itu, "masuk akal bila TBS memilih fokus ekspansi ke negara-negara yang lebih siap secara regulasi dan infrastruktur," tambahnya. Sebagai informasi, Danantara Indonesia mencatat lebih dari 107 perusahaan tertarik mengikuti tender proyek WTE dalam bentuk Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), dengan rencana peluncuran 10 PSEL di sepuluh kota pada akhir tahun 2025.
Sumber: AntaraNews