DLH DKI Dorong Usaha Kuliner Terapkan Bisnis Kuliner Berkelanjutan untuk Tekan Limbah Lingkungan
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta gencar mendorong pelaku usaha kuliner menerapkan praktik bisnis kuliner berkelanjutan demi mengurangi limbah dan dampak lingkungan di Ibu Kota. Langkah ini krusial untuk masa depan Jakarta.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta secara aktif mendorong seluruh pelaku usaha kuliner di Ibu Kota untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan dan berkelanjutan. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan Jakarta yang semakin terbebani oleh limbah.
Wakil Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, pada Sabtu (29/11), menegaskan bahwa pengelolaan limbah cair, sampah makanan, dan emisi harus menjadi bagian integral dari operasional bisnis. Sektor kuliner, dengan jumlahnya yang masif, diidentifikasi sebagai salah satu kontributor terbesar dalam produksi limbah di Jakarta.
Oleh karena itu, penerapan standar lingkungan kini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan yang harus diimplementasikan secara nyata oleh setiap usaha. DLH DKI berkomitmen untuk membimbing pelaku usaha dalam mewujudkan bisnis kuliner berkelanjutan melalui berbagai program edukasi dan kolaborasi.
Urgensi Penerapan Standar Lingkungan dalam Bisnis Kuliner
DLH DKI Jakarta menekankan bahwa sektor kuliner di Ibu Kota memiliki peran signifikan dalam menghasilkan limbah, sehingga implementasi standar lingkungan menjadi sangat penting. "Pengelolaan limbah cair, sampah makanan dan emisi harus menjadi bagian integral dari operasional usaha," ujar Dudi Gardesi Asikin.
Menurut Dudi, standar lingkungan tidak lagi bersifat opsional, melainkan sebuah keharusan. Upaya ini diperkuat melalui program pembinaan pendidikan, kolaborasi, dan aksi (ECO ACT) yang melibatkan penguatan pemahaman teknis pelaku usaha serta peningkatan kerja sama dengan berbagai pihak.
Program ECO ACT dirancang untuk memastikan pelaku usaha memahami dan menjalankan standar lingkungan yang berlaku. "Melalui ECO ACT, kami memastikan pelaku usaha memahami dan menjalankan standar lingkungan agar operasional tidak menambah beban pencemaran Jakarta," tambahnya, menegaskan komitmen DLH DKI dalam mewujudkan bisnis kuliner berkelanjutan.
Strategi Pengelolaan Limbah dan Pengurangan Sisa Makanan
Kapokja Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Ditjen Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular KLH, Wisti Noviani Adnin, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa UMKM kuliner di Jakarta menghasilkan lebih dari 500 ton sampah setiap hari. Angka ini menyoroti urgensi pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari sumbernya.
Wisti menekankan pentingnya peran pelaku usaha dalam memilah sampah sejak di dapur. "Pelaku usaha harus memilah sampah sejak di dapur. Kolaborasi dengan penyedia layanan pengelolaan sampah seperti peternakan, asosiasi maggot atau komposter sangat penting agar sampah organik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA)," jelasnya.
Edhy Surbakty, Founder Bahasa Bisnis, menambahkan bahwa pengurangan sisa makanan (food waste) adalah kunci utama menuju bisnis kuliner berkelanjutan. Ia menyarankan pencatatan sisa makanan di tiga titik kritis: persiapan dapur, sisa makanan di piring konsumen, dan bahan kedaluwarsa di penyimpanan.
Selain itu, Edhy merekomendasikan penyediaan pilihan porsi kecil, reguler, dan besar, serta evaluasi menu yang kurang diminati. Kolaborasi dengan bank sampah atau pegiat maggot/komposter juga sangat dianjurkan untuk mengolah sisa makanan secara efektif. Edukasi melalui kemasan dan komunikasi juga dapat memperkuat citra usaha yang berfokus pada keberlanjutan.
Manfaat Bisnis Kuliner Berkelanjutan bagi Pelaku Usaha
Penerapan praktik bisnis kuliner berkelanjutan tidak hanya berdampak positif pada lingkungan, tetapi juga dapat memperkuat citra usaha di mata konsumen. Edhy Surbakty menyoroti bagaimana praktik ini dapat menjadi bagian dari 'brand storytelling', misalnya dengan menceritakan keberhasilan pengurangan sampah dapur hingga 20 persen dalam tiga bulan.
Tren konsumen menunjukkan bahwa 62 persen memilih produk berkelanjutan meskipun harganya sedikit lebih tinggi. "Ini peluang besar bagi pelaku usaha kuliner," kata Edhy, menunjukkan bahwa investasi dalam keberlanjutan dapat menghasilkan keuntungan kompetitif dan menarik segmen pasar yang peduli lingkungan.
Dengan mengadopsi kemasan daur ulang, menawarkan opsi tanpa peralatan makan, dan memberikan pesan edukatif, usaha kuliner dapat menunjukkan komitmennya. Langkah-langkah ini tidak hanya mengurangi jejak karbon tetapi juga membangun loyalitas pelanggan yang menghargai tanggung jawab sosial dan lingkungan dari sebuah merek.
Sumber: AntaraNews