Fakta Unik: Meski Biaya Mahal & AS Keluar, Indonesia Teguh pada Komitmen Net Zero Emission 2060
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tegaskan Indonesia tidak akan keluar dari Paris Agreement, berkomitmen capai Net Zero Emission 2060 meski biaya transisi energi besar. Mengapa demikian?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menarik diri dari Kesepakatan Paris. Keputusan ini didasari oleh komitmen kuat pemerintah untuk mencapai target net zero emission (NZE) pada tahun 2060. Pernyataan ini disampaikan Bahlil di Jakarta pada hari Selasa, 7 Oktober, menyoroti konsistensi Indonesia dalam isu perubahan iklim global yang kian mendesak.
Komitmen tersebut tetap teguh meskipun Amerika Serikat sebelumnya telah mengambil keputusan untuk keluar dari Kesepakatan Paris. Selain itu, tingginya biaya yang diperlukan untuk transisi energi juga tidak menggoyahkan tekad Indonesia dalam mencapai tujuan ini. Presiden Prabowo Subianto secara pribadi telah menegaskan komitmen ini, menjadikannya prioritas nasional yang tidak dapat ditawar.
Presiden Prabowo sebelumnya juga telah menyampaikan pandangannya di Sidang Ke-80 Majelis Umum PBB di New York pada 23 September 2025. Beliau menekankan bahwa perubahan iklim adalah ancaman nyata yang harus dihadapi dengan tindakan konkret, bukan sekadar retorika. Oleh karena itu, Indonesia memilih untuk terus berjuang melawan dampak perubahan iklim, menunjukkan kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Komitmen Teguh Indonesia di Tengah Tantangan Global
Menteri Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa komitmen Indonesia untuk tetap berada dalam Paris Agreement adalah bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto. Presiden Prabowo secara tegas menyatakan dukungan penuh terhadap pencapaian net zero emission pada tahun 2060. Hal ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menghadapi isu perubahan iklim global yang semakin mendesak dan kompleks.
Meskipun Amerika Serikat pernah mengambil keputusan untuk keluar dari Kesepakatan Paris, Indonesia tidak terpengaruh oleh langkah tersebut. Bahlil menegaskan bahwa Indonesia memiliki pendirian sendiri yang kuat dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Komitmen ini mencerminkan kedaulatan dan tanggung jawab Indonesia sebagai negara besar di panggung internasional.
Biaya transisi energi menuju energi terbarukan memang sangat besar, seperti yang diakui oleh Bahlil sendiri. Kajian dari IRENA (Badan Energi Terbarukan Internasional) menunjukkan bahwa kawasan ASEAN membutuhkan sekitar 29,4 triliun dolar AS untuk mencapai 100 persen energi terbarukan pada 2050. Namun, tingginya biaya ini tidak menyurutkan tekad Indonesia untuk mencapai target net zero emission yang telah ditetapkan.
Dukungan Pendanaan dan Aksi Konkret Menuju NZE 2060
Untuk merealisasikan target net zero emission, Indonesia membutuhkan dukungan pendanaan yang substansial dari berbagai pihak. Negara maju dan institusi finansial global diharapkan dapat berperan aktif dalam menyediakan pembiayaan yang diperlukan. Inisiatif seperti Just Energy Transition Partnership (JETP), Asia Zero Emission Community (AZEC), dan Asian Development Bank (ADB) menjadi sangat krusial dalam mendukung transisi ini.
Presiden Prabowo Subianto telah menggarisbawahi pentingnya tindakan nyata dalam mengatasi perubahan iklim. Beliau membantah narasi yang meremehkan ancaman perubahan iklim, seperti yang pernah disampaikan oleh mantan Presiden AS Donald Trump. Bagi Indonesia, perubahan iklim bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang memerlukan respons cepat dan terukur dari seluruh elemen bangsa.
Salah satu contoh aksi konkret yang disebutkan adalah rencana pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa. Proyek ini merupakan bagian dari upaya adaptasi terhadap dampak kenaikan permukaan air laut yang berpotensi mengancam wilayah pesisir. Selain itu, Indonesia terus berupaya memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015, sejalan dengan target bebas emisi 2060.
Komitmen terhadap net zero emission tidak hanya mencakup pengurangan emisi, tetapi juga adaptasi terhadap dampak yang sudah terjadi. Pendekatan holistik ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan internasional dan aksi domestik yang terkoordinasi, Indonesia optimis dapat mencapai target ambisius ini.
Sumber: AntaraNews