Ekonom Soroti Biaya Peluang Ekspor CPO dalam Implementasi B50: Evaluasi Komprehensif Mendesak
Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, mendesak evaluasi komprehensif Implementasi B50. Ia menyoroti pentingnya mempertimbangkan biaya peluang ekspor CPO agar manfaat ekonomi program terukur akurat.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyarankan pemerintah untuk melakukan evaluasi lebih mendalam terhadap rencana implementasi mandatori biodiesel B50. Evaluasi ini harus mempertimbangkan biaya peluang yang muncul dari potensi berkurangnya ekspor minyak sawit mentah (CPO).
Menurut Yusuf, perhitungan manfaat ekonomi program B50 perlu dilakukan secara lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada penghematan impor solar. Faktor-faktor di luar penghematan devisa juga harus dimasukkan agar manfaat ekonomi program dapat terukur secara akurat.
Pemerintah sebelumnya memproyeksikan bahwa implementasi B50 dapat menghemat devisa sekitar Rp157,28 triliun pada tahun 2026 melalui penurunan impor solar. Namun, perhitungan ini belum mencerminkan biaya ekonomi secara keseluruhan.
Biaya Peluang Ekspor CPO dalam Implementasi B50
Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa keberhasilan program B50 tidak cukup hanya diukur dari perbandingan penghematan impor dengan besarnya subsidi yang dikeluarkan. Penting untuk memasukkan biaya peluang dari ekspor CPO yang berpotensi dikorbankan.
Penghematan impor solar seharusnya dihitung bersamaan dengan potensi berkurangnya penerimaan devisa. Hal ini terjadi karena sebagian produksi CPO akan dialihkan dari pasar ekspor ke pasar domestik untuk memenuhi kebutuhan biodiesel.
Meskipun kebutuhan insentif biodiesel yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) diproyeksikan mencapai sekitar Rp32 triliun, perhitungan ini belum sepenuhnya mencerminkan biaya ekonomi secara menyeluruh. Manfaat ekonomi program dinilai lebih besar dibandingkan biaya langsung yang dikeluarkan berdasarkan perhitungan awal.
Fluktuasi Harga Komoditas dan Risiko Fiskal
Keberhasilan fiskal program B50 sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas global, terutama selisih harga CPO dan solar berbasis minyak bumi. Fluktuasi harga ini dapat memengaruhi biaya program secara signifikan.
Ketika harga minyak dunia tinggi dan harga CPO relatif rendah, biodiesel menjadi lebih kompetitif, sehingga kebutuhan subsidi dapat menurun. Sebaliknya, kenaikan harga CPO atau penurunan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya program secara substansial.
Oleh sebab itu, Yusuf menyarankan agar pemerintah mengantisipasi risiko fiskal yang mungkin timbul dari fluktuasi harga komoditas internasional. Antisipasi ini krusial untuk menjaga stabilitas keuangan program.
Optimalisasi Dana BPDPKS dan Produktivitas Sawit
Program B50 memang dibiayai melalui BPDPKS, yang berarti tidak secara langsung membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, Yusuf mengingatkan bahwa sumber dana BPDPKS berasal dari pungutan ekspor sawit.
Peningkatan pemanfaatan CPO di dalam negeri berpotensi mengurangi volume ekspor, yang pada gilirannya akan berdampak pada penerimaan dana BPDPKS. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam perencanaan jangka panjang.
Yusuf menekankan bahwa efektivitas jangka panjang B50 tidak hanya ditentukan oleh besarnya subsidi, tetapi juga oleh kualitas alokasi anggarannya. Jika sebagian besar dana terus diarahkan untuk menopang konsumsi biodiesel sementara investasi pada peningkatan produktivitas sawit rakyat tetap terbatas, manfaat ekonomi jangka panjang berisiko tidak optimal.
Sumber: AntaraNews