Cara Orang Kaya Hindari Pajak Jadi Biang Kerok Ketimpangan Gaji
Para konglomerat melakukan beragam cara demi menghindari bayar pajak tinggi.
Belakangan ini, semakin banyak masyarakat yang mulai menyadari ketimpangan kekayaan yang terjadi antara para konglomerat dan pekerja biasa. Hal ini terlihat jelas ketika gaji CEO semakin melonjak, sementara gaji pekerja tetap stagnan.
Merujuk data Federasi Buruh Amerika (AFL-CIO) yang dilansir Money Digest, gaji CEO di perusahaan-perusahaan S&P 500 meningkat sebesar USD4,2 juta dalam dekade terakhir, mencapai rata-rata USD17,7 juta pada tahun 2023.
Di sisi lain, pekerja rata-rata hanya mengalami peningkatan gaji sekitar USD18.240, dengan gaji tahunan rata-rata sebesar USD65.470.
Kesenjangan ini makin jelas ketika membandingkan rasio gaji CEO dan pekerja. Pada tahun 1965, rasio ini adalah 20:1, artinya gaji CEO 20 kali lebih tinggi dari gaji pekerja biasa. Namun, pada tahun 2020, rasio ini melonjak menjadi 350:1.
Modus Hindari Pajak Tinggi
Meskipun gaji CEO terlihat sangat tinggi, ada beberapa CEO besar yang tidak terdaftar dalam daftar eksekutif dengan bayaran tertinggi.
Salah satunya adalah Jeff Bezos, pendiri Amazon. Meskipun memiliki kekayaan bersih sekitar USD232,2 miliar pada tahun 2025, Bezos mengungkapkan bahwa ia hanya menerima sekitar USD80.000 setahun sebagai gaji pokok saat menjabat sebagai CEO Amazon dari tahun 1994 hingga 2021. Namun, meskipun gajinya rendah, kekayaan bersih Bezos didorong oleh kepemilikan sahamnya yang besar di Amazon dan perusahaan lainnya, seperti Blue Origin dan The Washington Post.
Selain itu, Bezos dan miliarder lain seperti Elon Musk juga sering kali menghindari pajak penghasilan. Menurut ProPublica, Bezos menghindari pajak penghasilan pada tahun 2007 dan 2011 dengan melaporkan kerugian investasi yang lebih besar daripada gaji pokoknya. Banyak miliarder lainnya menggunakan undang-undang pajak untuk keuntungan mereka, membayar pajak yang sangat rendah, sering kali kurang dari 4%, meskipun mereka memiliki kekayaan yang sangat besar.
Salah satu cara miliarder menghindari pajak adalah dengan memiliki sebagian besar kekayaan mereka dalam bentuk aset, seperti saham dan properti. Keuntungan yang diperoleh dari peningkatan nilai aset ini tidak dikenakan pajak sampai mereka menjualnya.
Konsep ini dikenal dengan sebutan "keuntungan modal yang belum direalisasi," yang banyak digunakan oleh miliarder untuk menghindari pajak selama bertahun-tahun, bahkan melalui warisan. Beberapa orang kaya menggunakan strategi "beli, pinjam, mati" untuk menghindari pajak lebih lanjut.
Fenomena ini menyoroti ketimpangan yang semakin besar dalam distribusi kekayaan dan bagaimana orang-orang kaya menggunakan celah hukum untuk menghindari kewajiban pajak, sementara sebagian besar pekerja harus membayar pajak atas penghasilan mereka.