Bos BRI Pede Tak akan Terdampak Perang Tarif Trump
Dirut PT Bank BRI Hery Gunardi optimis kinerja perseroan tak terpengaruh oleh kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Direktur Utama (Dirut) PT Bank BRI Hery Gunardi optimis kinerja perseroan tak terpengaruh oleh kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Alasannya, segmen utama bisnis BRI bergantung pada permintaan dari sisi dalam negeri.
"Sehingga selain dari depresiasi mata uang yang terjadi, perang tarif diproyeksikan tidak berdampak terlalu signifikan ya untuk bisnisnya BRI maupun juga untuk Indonesia," ujar Hery dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Rabu (30/4).
Hery mencontohkan masih terjaganya kondisi perekonomian Indonesia tercermin dari cadangan devisa. Per akhir Desember 2025, cadangan devisa RI mencapai USD157,1 miliar. Angka ini naik dari dari USD155,7 miliar pada akhir Desember 2024.
"Di samping itu konsumsi domestik masih menjadi kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat masih tumbuh positif," imbuhnya.
Hal ini sejalan dengan realisasi total penyaluran kredit sebesar Rp1.373,66 triliun per Maret 2025. Angka penyaluran kredit ini tumbuh sebesar 4,97 persen secara year-on-year.
Kredit UMKM Masih Dominan
Penyaluran kredit tersebut masih didominasi oleh segmen UMKM dengan porsi mencapai 81,97 persen dari total kredit Bank BRI dengan nominal sebesar Rp1.126,02 triliun.
Kinerja apik penyaluran kredit UMKM tersebut ditopang oleh berbagai inisiatif untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, salah satunya melalui Agen Brilink.
"Hingga akhir Maret 2025, jumlah Agen Brilink telah mencapai 1,2 juta agen kurang lebih menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dengan pertumbuhan sebesar 49,48 persen secara year-on-year," ucapnya.
BRI berhasil menjaga kualitas kredit tetap lancar. Hal tersebut tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) atau kredit macet yang mengalami penurunan dari 3,11 persen di akhir triwulan 1 2024 menjadi 2,97 persen di akhir triwulan 1 2025.
Selanjutnya, BRI mampu menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.421,6 triliun. Dana murah atau CASA mendominasi penghimpunan DPK BRI dengan proporsi mencapai 65,77 persen atau setara dengan Rp934,95 triliun.
Dengan kinerja positif ini BRI berhasil membukukan laba bersih Rp13,80 triliun di Kuartal I-2025. Realisasi laba ini ditopang oleh peningkatan kredit Perseroan.
"Alhamdulillah hingga akhir Maret 2025 ini BRI Group mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp13,8 triliun," tandasnya.