Berkah Maraton Hari Raya, Produsen Kue Keranjang Kebanjiran Pesanan di Bekasi
Produsen kue keranjang di Kabupaten Bekasi menikmati berkah maraton hari raya. Usaha rumahan ini kebanjiran pesanan jelang Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri, menarik pembeli dari lokal hingga mancanegara.
Produsen kue keranjang rumahan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tengah merasakan berkah luar biasa. Mereka kebanjiran pesanan menjelang perayaan Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri tahun 2026. Fenomena ini terjadi akibat berdekatannya jadwal hari raya besar keagamaan secara beruntun.
Lonjakan permintaan ini telah dimulai sejak akhir tahun lalu, tepatnya menjelang Natal. Momentum panen rezeki ini diprediksi akan terus berlanjut hingga Lebaran Haji mendatang. Kondisi ini membawa angin segar bagi para pelaku usaha lokal.
Salah satu produsen, Kesih (38), mengungkapkan bahwa dapur produksinya di Desa Karangasih kini beroperasi nyaris tanpa henti. Peningkatan kapasitas produksi signifikan diperlukan untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Ini menjadi bukti nyata geliat ekonomi di Cikarang Utara.
Maraton Rezeki di Tengah Berkah Hari Raya Beruntun
Kesih, pemilik industri rumahan di Desa Karangasih, menyebut tahun 2026 sebagai momentum panen rezeki. Kedekatan waktu antara Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri membuat pesanan melonjak tajam. Ia bahkan menyebut kondisi ini sebagai "maraton rezeki" yang telah dimulai sejak akhir tahun lalu.
Kue keranjang produksinya dibanderol Rp30.000 per kilogram, berisi tiga buah kue. Dapur produksinya kini nyaris tidak pernah berhenti beroperasi. Karyawan mulai mengolah gula hingga menjadi karamel sejak sore hari.
Proses pembuatan kue keranjang memerlukan waktu berjam-jam dan kesabaran ekstra. "Kalau masaknya pagi, baru matang itu nanti malam. Terus didinginkan sampai nanti dikirim," ujar Kesih. Pada hari biasa, Kesih dan 40 karyawannya mampu memproduksi 5-10 drum besar per hari.
Setiap drum berisi rata-rata 125-130 kilogram kue keranjang. Memasuki Tahun Baru Imlek, kapasitas produksi meningkat hingga empat kali lipat. Ini menunjukkan adaptasi luar biasa dari produsen lokal.
Kue Keranjang: Jembatan Budaya dan Penggerak Ekonomi Lokal
Menariknya, Kesih berhasil membuktikan bahwa usaha tidak mengenal batas budaya, meski tidak memiliki garis keturunan Tionghoa. Ia mampu mempekerjakan kerabat maupun tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Produknya kini dipesan oleh warga Indonesia di Jepang, Australia, hingga Arab Saudi.
Pesanan juga banyak datang dari Tangerang, Subang, hingga Banten. "Yang banyak juga di Tangerang, sampai Subang, Banten juga ada. Biasanya kalau lagi ramai, satu orang bisa pesan satu ton," ucap Kesih. Ia menambahkan, "Alhamdulillah selama mampu, kami produksi."
Tak jauh dari lokasi usaha Kesih, pemilik merek Kue Keranjang Cahaya Hidup, Candra (65), turut merasakan berkah serupa. Ia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga sejak tahun 1993. Candra menjadi saksi perjalanan kue keranjang sebagai bagian dari denyut ekonomi Cikarang.
Candra mengakui bahwa mempertahankan usaha kue keranjang bukan sekadar persoalan omzet. Baginya, ini adalah upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Ia tetap setia pada metode produksi lama demi menjaga kualitas rasa otentik.
Menjaga Tradisi di Tengah Fluktuasi Pasar
Meski tren pasar mengalami fluktuasi, kedekatan jadwal Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri tahun ini menjadi peluang bisnis menjanjikan. "Walaupun memang tidak seramai tahun lalu, tapi terbantu dengan waktu antara Imlek sama bulan puasa kan nyambung, terus Idul Fitri. Jadi kami bisa terus produksi," kata Candra.
Candra percaya bahwa menjaga kualitas dan tradisi adalah kunci keberlanjutan usahanya. Ia berpegang teguh pada prinsip bahwa kebaikan dalam berproses akan membawa hasil yang baik pula. "Tentu sudah menjadi kebiasaan. Karena kan untuk kebaikan juga, jadi dilakukannya juga untuk kebaikan," ujarnya.
Ia menambahkan, "Sedangkan soal rezeki menjadi kuasa Yang Maha Esa." Di Kabupaten Bekasi, kue keranjang kini bukan sekadar simbol perayaan satu komunitas. Produk ini telah menjadi jembatan ekonomi dan simbol kerukunan.
Kehadiran kue keranjang membantu menjaga dapur warga tetap 'ngebul' sepanjang tahun. Ini menunjukkan bagaimana produk tradisional dapat memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.
Sumber: AntaraNews