Benarkah Wisatawan ke Korsel Anjlok Akibat Sikap Rasis? Cek Datanya
Langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mencegah imigrasi ilegal dan tidak bersifat diskriminatif.
Langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mencegah imigrasi ilegal dan tidak bersifat diskriminatif.
Benarkah Wisatawan ke Korsel Anjlok Akibat Sikap Rasis? Cek Datanya
Baru-baru ini, Organisasi Wisata Korea, Korea Tourism Organization (KTO) merilis jumlah wisatawan asing selama periode Januari-April 2024. Hasilnya hampir seluruh negara mengalami tren kenaikan, kecuali Thailand.
Merujuk data KTO yang dilansir The Korea Times, periode Januari-April 2024, hanya 119.000 wisatawan Thailand yang menghabiskan waktu di Korea. Angka ini turun 21,1 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Bahkan dibandingkan periode sebelum Covid-19, tingkat wisatawan Thailand masih rendah. Pada tahun 2019, Thailand adalah negara Asia Tenggara teratas dalam jumlah wisatawan ke Korea dengan 572.000 pengunjung. Angka ini melampaui Vietnam (554.000) dan Filipina (504.000).
Pakar industri pariwisata mengaitkan penurunan wisatawan Thailand dengan sentimen negatif yang timbul dari penolakan masuk di imigrasi Korea. Pengenalan sistem K-ETA (Otorisasi Perjalanan Elektronik Korea), yang mengharuskan pelancong dari 112 negara bebas visa untuk mendaftar dan mendapatkan persetujuan masuk secara online sebelum berangkat ke Korea, menjadi faktor penting.
Meskipun pengecualian K-ETA untuk sementara diberikan kepada 22 negara, termasuk Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura, Thailand tidak termasuk.
Tingginya jumlah penolakan K-ETA dan kurangnya penjelasan yang jelas atas penolakan tersebut telah memicu ketidakpuasan di kalangan warga negara Thailand.
Beberapa pelancong, bahkan setelah menerima persetujuan K-ETA, ditolak masuk setibanya di Korea, sehingga memperburuk masalah ini.
Kisah penolakan masuk ini telah menjadi topik hangat di media sosial Thailand dan berkontribusi terhadap penurunan jumlah wisatawan.
Persyaratan masuk yang lebih ketat bagi warga negara Thailand sebagian disebabkan oleh fakta bahwa Thailand merupakan sumber utama imigran ilegal di Korea, banyak di antaranya terlibat dalam kejahatan berat, termasuk pelanggaran narkoba dan kejahatan seksual.
Kementerian Kehakiman telah menekankan bahwa langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mencegah imigrasi ilegal dan tidak bersifat diskriminatif terhadap warga negara Thailand.