Bali Sambut Baik Inovasi Kalkulator Hijau BI, Perkuat Ekonomi Ramah Lingkungan
Pemerintah Provinsi Bali menyambut positif penerapan Kalkulator Hijau BI untuk menghitung emisi dan mendorong kompensasi ramah lingkungan, langkah penting menuju ekonomi berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi Bali secara resmi menyambut baik inisiatif Bank Indonesia (BI) dalam penerapan Kalkulator Hijau BI. Alat ini dirancang untuk menghitung pengeluaran emisi karbon dari berbagai kegiatan ekonomi yang berlangsung. Penerapan ini diharapkan dapat mendorong upaya kompensasi melalui aktivitas ramah lingkungan di seluruh wilayah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Bali, I Made Rentin, yang mewakili Gubernur Bali, menegaskan pentingnya edukasi jejak karbon. Menurutnya, pemahaman mengenai jejak emisi karbon akan memicu semua pihak untuk memberikan kompensasi kegiatan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan ekonomi tetap mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis bagi Bali dalam mewujudkan transisi menuju ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan adanya kalkulator ini, diharapkan kesadaran kolektif baik dari pelaku usaha, pemerintah, maupun masyarakat luas dapat meningkat. Ini sejalan dengan agenda daerah untuk penguatan tutupan hutan dan pemulihan ekosistem.
Edukasi dan Kompensasi Jejak Karbon Melalui Kalkulator Hijau
Penggunaan Kalkulator Hijau BI menjadi sarana edukasi yang vital dalam memahami perhitungan dan pengolahan jejak karbon. I Made Rentin menyatakan, "Edukasi mengenai perhitungan dan pengolahan jejak karbon menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran kolektif baik bagi para pelaku usaha sektor pemerintahan maupun masyarakat secara luas." Pemahaman ini krusial untuk mendorong tindakan nyata.
Penerapan kalkulator hijau ini telah diwujudkan melalui kegiatan penanaman 1.000 pohon mangrove di Teluk Benoa, Badung. Penanaman ini merupakan bentuk kompensasi atas 126 ton emisi yang dihasilkan dari ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025, yang akan berlangsung pada 7-10 Agustus 2025. Selain penanaman mangrove, Bank Indonesia juga mengimbangi emisi KKI dengan membeli kredit karbon di bursa karbon.
Penanaman seribu pohon mangrove ini bukan hanya sekadar kompensasi, tetapi juga bukti nyata komitmen bersama. Tujuannya adalah memperkuat ekosistem mangrove sebagai paru-paru pesisir Bali. Mangrove memiliki peran penting dalam menyerap karbon, melindungi dari abrasi, serta menjadi habitat bagi beragam biota laut. Ini adalah investasi jangka panjang bagi lingkungan Bali.
I Made Rentin menambahkan, "Melalui kerja sama ini, kita memastikan bahwa pembangunan dan aktivitas ekonomi Bali tetap berada pada jalur keberlanjutan." Langkah BI dalam mengkompensasi emisi membuktikan bahwa penggerakan ekonomi dapat selaras dengan pelestarian lingkungan, sebuah model yang bisa direplikasi di daerah lain. Ini menunjukkan sinergi antara pembangunan dan lingkungan.
Dukungan Bank Indonesia untuk Ekonomi Berkelanjutan
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa upaya kompensasi emisi dari kegiatan ekonomi bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. BI tidak hanya fokus pada kompensasi emisi dari kegiatannya sendiri, tetapi juga aktif mendorong perbankan untuk menyalurkan lebih banyak kredit. Kredit ini ditujukan untuk kegiatan ekonomi yang berlandaskan prinsip hijau.
Destry Damayanti menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam pembangunan. "Beberapa tahun terakhir, kita berpikir alam kita juga makin lama makin rusak, dan alam pasti akan marah, sehingga kita membuat kebijakan yang kita kaitkan dengan lingkungan," ujarnya. Kebijakan ini mencakup dorongan bagi bank untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor hijau, seperti pembangunan perumahan dengan prinsip hijau atau pembiayaan mobil listrik, guna menjaga sirkulasi ekonomi yang berkelanjutan.
Jajaran BI ke depan diharapkan terus menghitung emisi yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi dan mengkompensasikannya melalui program hijau. Hal ini untuk memastikan bahwa setiap program BI selaras dengan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG). Destry Damayanti juga mendorong agar penggunaan kalkulator hijau terus disosialisasikan secara luas kepada seluruh pemangku kepentingan.
Sinergi Menuju Target Emisi Nol Bersih Nasional
Langkah-langkah yang diambil oleh BI ini sangat selaras dengan agenda daerah Provinsi Bali. Agenda tersebut menekankan pada penguatan tutupan hutan, pemulihan ekosistem, serta pengurangan emisi berbasis lahan. Selain itu, percepatan rehabilitasi mangrove sebagai penyerap karbon yang efektif dan pelindung alami kawasan pesisir juga menjadi prioritas utama. Sinergi ini memperkuat komitmen bersama.
Kepala Departemen Ekonomi-Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Nita Anastuty, menegaskan bahwa upaya kompensasi emisi ini adalah bagian dari inisiasi bank sentral. Inisiasi ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah Indonesia dalam mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) pada tahun 2060. Setiap langkah kecil berkontribusi pada tujuan besar ini.
Sosialisasi dan implementasi Kalkulator Hijau BI diharapkan dapat menjadi katalisator bagi perubahan perilaku. Perubahan ini tidak hanya di sektor pemerintahan dan bisnis, tetapi juga di tingkat masyarakat. Dengan demikian, target pembangunan berkelanjutan dan transisi menuju ekonomi hijau dapat tercapai secara efektif dan menyeluruh. Ini adalah upaya kolektif yang membutuhkan dukungan semua pihak.
Sumber: AntaraNews