Arab Saudi Butuh Bauksit Berkualitas dari Indonesia, MIND ID Sodorkan Proyek Smelter Alumina
Proyek ini dirancang sebagai kolaborasi dengan holding tambang Arab Saudi, Ma’aden, melalui anak usahanya Emirates Global Aluminium (EGA).
Holding BUMN sektor pertambangan, MIND ID membuka peluang kerja sama strategis dengan Arab Saudi dalam pengembangan smelter alumina. Ajakan ini mencuat usai kunjungan Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, H.E Bandar Alkhorayef ke Indonesia, pada Selasa (15/4).
Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, Dilo Seno Widagdo menjelaskan bahwa proyek ini dirancang sebagai kolaborasi dengan holding tambang Arab Saudi, Ma’aden, melalui anak usahanya Emirates Global Aluminium (EGA).
Menurut Dilo, Ma’aden saat ini memproduksi aluminium, namun terkendala oleh kualitas bauksit dalam negerinya yang tergolong rendah. Karena itu, Arab Saudi mengincar bahan baku dari Indonesia. Sayangnya, Indonesia tak bisa serta-merta mengekspor bauksit ke negara tersebut.
"Kalau alumina yang sekarang lu mau beli, sorry saya sudah habis. Ini udah dibeli sama orang semua. Kalau mau yuk kita buat lagi. Smelter Grade Alumina lagi," kata Dilo di acara Ngobrol Eksklusif, di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (17/4).
Meski belum merinci lokasi pembangunan smelter baru tersebut, Dilo menegaskan pentingnya proyek ini untuk memenuhi kebutuhan domestik. Saat ini, Indonesia masih kekurangan sekitar 1 juta ton aluminium untuk konsumsi dalam negeri.
"Kita itu gapnya itu sekarang itu 1 juta ton aluminium. 1 juta aluminium itu artinya butuh paling nggak sekitar 2-2,5 juta aluminium. Belum untuk kebutuhan ekspornya aluminiumnya. Jadi kurang 1,4 juta. Nah kalau gue 1 juta lagi yang mau gue kembangkan ini. Itu pun masih kurang," ujarnya.
Arab Saudi Siap Kembangkan Kawasan Industri
Sebelumnya, Kerajaan Arab Saudi bersiap untuk mengembangkan kawasan industri di Indonesia, dengan mengajak sejumlah mitra lokal semisal Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Rencana ini dibicarakan dalam pertemuan antara Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Kerajaan Arab Saudi, Bandar Al-Khorayef, di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Jakarta, Rabu (16/4/2025).
"Tentu karena pengembangan industri baru dilaksanakan (Arab Saudi) recently, mereka juga akan tukar pikiran dengan Indonesia bagaimana mengembangkan kawasan-kawasan industri," kata Menperin.
Menurut dia, Indonesia sudah memiliki lebih dari 150 kawasan industri yang terkelola dengan cukup baik. Menurutnya, itu jadi modal bagi pemerintah untuk menyiapkan nota kesepahaman (MoU) dengan Arab Saudi.
"Itu semua nanti akan dalam waktu dekat akan kita tuangkan di dalam sebuah MoU, antara pihak Arab Saudi dan Indonesia. Dan, MoU ini kita harapkan bisa dilaksanakan sesegera mungkin," imbuh Menperin.
Menperin mengatakan, MoU itu nantinya akan dibatasi pada program atau proyek yang punya titik temu antara kedua negara. Terpenting, proyek-proyek yang bersifat quick win atau bisa segera dimanfaatkan (low hanging fruit).
"MoU-nya akan betul-betul kita batasi terhadap program-program atau proyek-proyek yang memiliki common ground antara Saudi dan Indonesia, tetapi juga yang terpenting proyek-proyek yang quick win, low hanging fruit," tegasnya.
Untuk itu, Kemenperin akan mendetailkan 2-3 proyek yang benar-benar punya peluang untuk bisa segera dimanfaatkan. Terutama yang bisa menarik minat besar dari Arab Saudi.