Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) buka peluang melakukan kerjasama dengan Kerajaan Arab Saudi untuk meningkatkan sektor industri petrokimia dan turunannya, termasuk farmasi.
Itu jadi salah satu pokok pembahasan dalam pertemuan antara Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Kerajaan Arab Saudi, Bandar Al-Khorayef, di Jakarta, Rabu (16/4).
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, pemerintah ingin mendongkrak kerjasama di bidang petrokimia. Lantaran Indonesia membutuhkan hilirisasi (downstreaming) dari petrokimia untuk mendukung sektor-sektor turunannya.
"Petrochemical itu merupakan mother of all industry sekarang di luar logam. Dan Arab Saudi mempunyai kekuatan untuk bekerjasama dengan kita," kata Menperin.
Di sisi lain, Arab Saudi pun dinilai potensial untuk diajak sebagai mitra, dalam menjadikan Indonesia sebagai pemain dunia di sektor pengembangan mineral dan industrialisasi.
Termasuk untuk industri turunan petrokimia seperti produk farmasi dan obat-obatan. Menperin mengamini bahwa itu bakal turut masuk dalam kesepakatan dengan Arab Saudi.
"Itu (farmasi) kan bagian dari petrochemical. Itu akan ke sana," ungkap dia.
Dikatakan Menperin, dirinya juga sudah mendengar bahwa Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Kerajaan Arab Saudi pun telah bertemu dengan beberapa pengusaha Indonesia di sektor mineral.
Sehingga, pemerintah akan ikut terlibat untuk mengamankan kekuatan pasar yang ada di dalam portofolio Arab Saudi.
"Tentu karena pengembangan industri baru dilaksanakan (Arab Saudi) recently, mereka juga akan tukar pikiran dengan Indonesia bagaimana mengembangkan kawasan-kawasan industri," kata Menperin.
Advertisement
Menurut dia, Indonesia sudah memiliki lebih dari 150 kawasan industri yang terkelola dengan cukup baik. Menurutnya, itu jadi modal bagi pemerintah untuk menyiapkan nota kesepahaman (MoU) dengan Arab Saudi.
"Itu semua nanti akan dalam waktu dekat akan kita tuangkan di dalam sebuah MoU, antara pihak Arab Saudi dan Indonesia. Dan, MoU ini kita harapkan bisa dilaksanakan sesegera mungkin," imbuh Menperin.
Menperin mengatakan, MoU itu nantinya akan dibatasi pada program atau proyek yang punya titik temu antara kedua negara. Terpenting, proyek-proyek yang bersifat quick win atau bisa segera dimanfaatkan (low hanging fruit).
"MoU-nya akan betul-betul kita batasi terhadap program-program atau proyek-proyek yang memiliki common ground antara Saudi dan Indonesia, tetapi juga yang terpenting proyek-proyek yang quick win, low hanging fruit," tegasnya.
Untuk itu, Kemenperin akan mendetailkan 2-3 proyek yang benar-benar punya peluang untuk bisa segera dimanfaatkan. Terutama yang bisa menarik minat besar dari Arab Saudi.
Dalam hal ini, Menperin menyebut Arab Saudi tertarik untuk ikut terlibat secara operasional bersama MIND ID dan Vale Indonesia. Lantaran, keduanya punya kekuatan besar dalam mengelola sektor mineral kritis di Tanah Air.
"Mereka sudah bicara, sebut saja dengan MIND ID dan Vale, dimana mereka akan meng-eksplore dan ada interest juga untuk berpartisipasi di dalam operasional Vale dan juga operasional MIND ID di Indonesia," bebernya.
"Itu salah satu contoh quick win atau low hanging fruit. Karena Vale juga kita lihat bahwa mereka sangat serius dalam mengembangkan turunan atau downstreaming-nya, dan juga MIND ID," pungkas Menperin.