Warga Desa Ini Budidaya Lele dengan Metode Tak Biasa, Tapi Hasilnya di Luar Dugaan
Penerapan sistem budidaya berbasis bioflok sejalan dengan prinsip perikanan berkelanjutan.
Tak seperti di tempat lain, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Balai Mina di Banyuasin, Sumatera Selatan, melakukan budidaya ikan lele dengan sistem low external input sustainable aquaculture (LEISA) melalui teknologi bioflok. Cara ini terbukti mendapatkan hasil yang melimpah dan ramah lingkungan.
Teknologi bioflok dikenal sebagai metode budidaya ramah lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah organik di kolam menjadi pakan alami bagi ikan. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan buatan dapat ditekan, kualitas air lebih terjaga, dan hasil panen menjadi lebih optimal.
Ketua Pokdakan Balai Mina Suntoro mengatakan, penerapan sistem budidaya berbasis bioflok sejalan dengan prinsip perikanan berkelanjutan. Cara ini dibutuhkan untuk mengatasi masalah yang muncul selama ini.
"Kami ingin para pembudidaya tidak hanya berorientasi pada produksi tinggi, tetapi juga efisien dalam penggunaan sumber daya dan menjaga kelestarian lingkungan," ungkap Ketua Pokdakan Balai Mina Suntoro, Jumat (29/8).
Tim Pengabdian Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang yang diketuai Raudhatus Sa’adah melakukan pengembangan budidaya ikan ramah lingkungan dengan sistem tersebut. Pelatihan ini meliputi materi teori dan praktik langsung, mulai dari persiapan kolam bioflok, pembuatan inokulan bakteri probiotik, manajemen kualitas air, hingga pemberian pemberian pakan.
Tak tanggung-tanggung, pemateri menghadirkan Balai Budidaya Perikanan Air Tawar Jambi, Wihandoko. Dia menyebut bioflok mampu meningkatkan kepadatan tebar ikan lele hingga 2 sampai 3 kali lipat dibanding sistem konvensional.
"Dengan pelatihan ini, diharapkan para pembudidaya ikan di Banyuasin dapat mengadopsi teknologi bioflok untuk meningkatkan pendapatan, meminimalkan biaya produksi, serta berkontribusi pada pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan," kata dia.
Selain pelatihan teknis budidaya, peserta juga mendapat pembekalan manajemen keuangan. Pelatihan mencakup pencatatan pemasukan dan pengeluaran, perhitungan biaya produksi, analisis keuntungan, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana.
"Banyak kelompok gagal berkembang bukan karena teknis produksi, tetapi karena lemahnya manajemen keuangan," kata instruktur pelatihan pembukuan Keti Purnamasari.
Dia mengatakan, pembukuan yang rapi akan memudahkan pengelolaan usaha, pengambilan keputusan, dan akses ke pembiayaan dari lembaga perbankan atau pemerintah. Dengan kombinasi inovasi budidaya dan pengelolaan keuangan yang baik, kelompok ink dapat menjadi percontohan bagi kelompok pembudidaya lainnya di Banyuasin dan sekitarnya.