Mahasiswa Universitas Riau (Unri) telah memberikan kontribusi signifikan kepada masyarakat Nagari Koto Kaciak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dalam bidang pengelolaan perikanan. Mereka memperkenalkan sistem budidaya adaptif serta pemasaran yang terintegrasi dengan ekosistem digital. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas perikanan lokal dan mengatasi tantangan rantai pasok yang belum optimal.
Program ini dipimpin oleh Ketua Kelompok sekaligus Dosen Asisten Ahli Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan Unri, Rizki Oktavian. Implementasinya berfokus pada sistem BPSMT-DIGIFISH, sebuah model budidaya perikanan skala mikro terintegrasi berbasis ekosistem digital. Pendekatan ini diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi sektor perikanan di Nagari Koto Kaciak.
Rizki Oktavian menjelaskan bahwa masalah klasik di wilayah tersebut adalah rendahnya produktivitas perikanan dan rantai pasok yang belum terintegrasi. Masyarakat selama ini cenderung menggunakan metode konvensional yang rentan terhadap kegagalan, terutama saat terjadi bencana alam. Oleh karena itu, inovasi digital ini menjadi solusi adaptif yang sangat dibutuhkan.
Advertisement
Advertisement
Mahasiswa Unri memperkenalkan sistem BPSMT-DIGIFISH sebagai model budidaya perikanan skala mikro terintegrasi yang inovatif. Sistem ini secara cerdas menggabungkan teknologi digital dengan pendekatan ekosistem yang disesuaikan kebutuhan lokal masyarakat. Inovasi ini secara langsung menjawab tantangan produktivitas perikanan yang rendah serta masalah rantai pasok yang belum terintegrasi di Nagari Koto Kaciak.
Melalui metode Budidaya Ikan dalam Ember (Bioflok) berbasis resirkulasi, masyarakat dilatih untuk menghasilkan sumber pangan secara mandiri. Metode ini sangat efektif untuk lahan sempit, menawarkan sistem yang fleksibel dan mudah diterapkan dalam berbagai kondisi lingkungan. Keunggulan utama sistem ini adalah sifatnya yang portabel, memungkinkan wadah budidaya dipindahkan dengan mudah saat terjadi ancaman bencana alam.
Rizki Oktavian menegaskan bahwa teknologi yang diperkenalkan bukan sekadar alat, melainkan sebuah pencerahan yang esensial. Inisiatif ini mampu mengubah pola pikir masyarakat, mendorong mereka menuju sistem produksi yang lebih modern dan berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan lokal dan meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Selain fokus pada aspek budidaya, mahasiswa Unri juga aktif mendorong penguatan nilai tambah hasil perikanan melalui kolaborasi strategis. Mereka bekerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk mengolah hasil perikanan menjadi produk siap saji. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk di pasar dan memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.
Produk dengan nama “LEMBUKU” atau lele bumbu kuning menjadi contoh nyata dari transformasi hasil panen yang signifikan. Sebelumnya, lele hanya dijual mentah, namun kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dengan kemasan menarik dan legalitas usaha yang jelas. Inovasi ini menunjukkan potensi besar dalam pengembangan produk perikanan olahan.
Pemasaran produk olahan ini dilakukan secara ekstensif melalui platform digital, yang berhasil membuka akses pasar yang jauh lebih luas. Strategi ini secara signifikan meningkatkan peluang pendapatan masyarakat dibandingkan dengan sistem penjualan tradisional sebelumnya. Digitalisasi pemasaran menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Program pemberdayaan ini melibatkan sekitar 50 mahasiswa yang mengalokasikan 160 jam kerja efektif untuk berbagai kegiatan. Cakupan kegiatan meliputi aspek produksi, manajemen usaha, hingga pemasaran digital yang terintegrasi. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) digunakan, memastikan masyarakat terlibat aktif sebagai subjek perubahan, bukan hanya penerima manfaat program.
Masyarakat diberikan pelatihan komprehensif, mulai dari pembuatan alat budidaya hingga pengelolaan produksi perikanan yang efisien. Pelatihan juga mencakup penggunaan teknologi digital untuk pemasaran produk secara mandiri dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Tujuannya adalah membangun kemandirian ekonomi yang kuat di kalangan masyarakat.
Integrasi dengan sektor pariwisata melalui kelompok sadar wisata turut membuka peluang baru untuk pengembangan ekowisata dan edukasi berbasis perikanan. Rizki berharap program ini mampu membangun kemandirian pascabencana melalui sistem yang resilien. Harapannya, masyarakat tidak hanya pulih, tetapi juga memiliki daya saing ekonomi yang lebih kuat di masa depan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews