Tragis, Istri Mantan Perdana Menteri Nepal Tewas Terbakar Akibat Rumahnya Dibakar Demonstran
Khanal menjabat sebagai Perdana Menteri Nepal dari Februari hingga Agustus 2011.
Rajyalaxmi Chitrakar, istri dari mantan Perdana Menteri Nepal Jhalanath Khanal, meninggal dunia pada Selasa (9/9/2025) setelah menderita luka bakar yang parah. Luka-luka tersebut terjadi akibat kediaman mereka di Kathmandu dibakar oleh massa saat protes yang berlangsung dengan kekerasan.
Informasi ini dilaporkan oleh kantor berita ANI yang mengutip portal berita daring asal Nepal, Khabarhub. Menurut keterangan dari pihak keluarga yang dilansir oleh Times of India, Chitrakar berada di dalam rumah ketika para demonstran melakukan aksi pembakaran terhadap bangunan tersebut.
Dia segera dilarikan ke Rumah Sakit Luka Bakar Kirtipur dalam kondisi kritis, namun sayangnya, nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Peristiwa tragis ini terjadi di tengah gelombang demonstrasi yang dipimpin oleh Generasi Z (Gen Z) setelah pemerintah mengeluarkan larangan terhadap beberapa platform media sosial. Aksi protes yang awalnya berlangsung damai dengan cepat berubah menjadi kerusuhan nasional.
NY Times melaporkan bahwa sedikitnya 22 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi di Kathmandu serta di beberapa kota lain seperti Pokhara, Butwal, dan Birgunj. Aksi demo Gen Z yang dimulai pada Senin (8/9) meletus setelah pemerintah melarang 26 platform media sosial besar, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan YouTube, dengan alasan pajak dan keamanan siber.
Namun, banyak warga Nepal yang menilai langkah tersebut sebagai serangan terhadap kebebasan berpendapat dan sebagai kedok untuk menutupi praktik korupsi.
Perdana Menteri dan Presiden Nepal Mengundurkan Diri
Situasi yang semakin memburuk memaksa Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli, atau KP Sharma Oli, untuk mengundurkan diri. Sementara itu, para demonstran melakukan aksi dengan membakar berbagai gedung pemerintah, termasuk gedung parlemen serta kantor presiden.
Dalam perkembangan lain, Presiden Ram Chandra Paudel, yang juga mengundurkan diri, pada hari Selasa menyerukan agar semua pihak tetap tenang dan menekankan pentingnya dialog.
"Saya mendesak semua pihak agar tetap tenang, mencegah kerugian lebih lanjut bagi bangsa, dan duduk bersama untuk berdialog. Dalam sebuah demokrasi, tuntutan yang disuarakan rakyat dapat diatasi melalui dialog dan negosiasi," ujarnya dalam pernyataan yang dimuat The Himalayan Times.
Walaupun jam malam telah diterapkan di beberapa daerah, aksi protes masih terus meluas. Para demonstran menuntut agar pemerintah bertanggung jawab dan menghentikan praktik korupsi yang telah mengakar.
Di tengah ketegangan ini, pemerintah juga telah mencabut larangan terhadap media sosial, memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat mereka. Dengan demikian, situasi politik di negara tersebut semakin kompleks dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak terkait.
Militer Nepal Mengeluarkan Imbauan kepada Masyarakat
Kepala Staf Angkatan Darat Nepal, Jenderal Ashok Raj Sigdel, mengajak para demonstran Gen Z untuk mencari solusi damai melalui dialog, sambil menyaksikan pengerahan angkatan militer demi menjaga ketertiban.
"Aksi protes ini telah menimbulkan kerusakan besar. Oleh karena itu, untuk mencegah kerugian lebih lanjut serta menjaga perdamaian, keamanan, keharmonisan, dan persatuan nasional, adalah tanggung jawab kita bersama," ungkapnya dalam sebuah video yang dirilis pada Selasa malam.
Dalam pernyataannya, Jenderal Sigdel menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kerusakan yang terjadi pada fasilitas publik akibat aksi protes nasional tersebut. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang kehilangan nyawa, serta berharap agar para korban yang terluka segera mendapatkan kesembuhan.
"Untuk meredakan situasi sulit yang tengah berlangsung, melindungi warisan nasional, properti publik dan pribadi, serta memberikan rasa aman kepada masyarakat adalah kewajiban kita bersama," tegasnya.
Jenderal Sigdel menambahkan bahwa menjaga kepentingan utama negara juga merupakan tanggung jawab bersama.
"Oleh karena itu, demi membawa negara keluar dari situasi pelik ini dengan cara damai, saya meminta kelompok demonstran untuk membatalkan rencana aksi protes dan duduk di meja perundingan," tuturnya.
Militer Mengambil Kendali atas Operasi Keamanan
Menurut NDTV, tentara Nepal telah mengambil alih pengelolaan Bandara Internasional Tribhuvan setelah terjadi upaya pengunjuk rasa untuk memasuki area bandara pada Selasa malam. Akibat dari aksi protes tersebut, layanan penerbangan di bandara mengalami penundaan sebagian.
Selain itu, militer juga mengambil alih kontrol di Singhdurbar, yang merupakan kompleks sekretariat utama pemerintah, setelah para demonstran melakukan pembakaran di dalam area tersebut. Tentara masuk ke kompleks setelah berhasil mengevakuasi para pengunjuk rasa yang ada di sana.
Di sisi lain, tindakan tentara juga diperlukan ketika sekelompok demonstran berusaha merusak gerbang kuil suci Pashupatinath. Sebelumnya, tentara Nepal telah mengumumkan bahwa mereka akan mulai mengambil alih operasi keamanan pada Selasa pukul 22.00 waktu setempat.