Stroke Tak Pandang Usia, Ini Kebiasaan Buruk Selain Begadang yang Bisa Jadi Pemicu
Inilah daftar kebiasaan buruk pemicu stroke usia muda yang sering disepelekan.
Ibrahim Sjarief Assegaf, suami dari Najwa Shihab, meninggal dunia akibat stroke yang menyebabkan pendarahan otak. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan sahabat terdekat.
Stroke kini tak hanya mengintai usia senja, tetapi juga menghantui generasi muda. Laporan terbaru menunjukkan lonjakan kasus stroke yang mengkhawatirkan di kalangan usia produktif.
Hal ini tentu memaksa kita untuk lebih waspada dan mengubah cara pandang terhadap penyakit yang dulu dianggap hanya menyerang orang tua saja.
Gaya hidup yang kurang sehat di era modern rasanya menjadi penyebab utama meningkatnya kasus stroke di kalangan anak muda. Salah satu gaya hidup yang seringkali dilakukan dan berdampak cukup signifikan bagi peningkatan risiko stroke adalah begadang.
Hal ini pun bukan lagi menjadi rahasia jika begadang bisa menjadi pemicu utama dari terjadinya stroke. Meski demikian, nyatanya terdapat sederet kebiasaan buruk selain begadang yang patut diwaspadai.
Apa sajakah hal itu? Melansir dari berbagai sumber, berikut ulasan selengkapnya.
Merokok
Merokok adalah faktor utama penyebab stroke. Zat-zat kimia berbahaya dalam rokok merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penggumpalan darah.
Kerusakan ini menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri, yang dikenal sebagai aterosklerosis, sehingga meningkatkan risiko stroke iskemik.
Selain itu, merokok juga meningkatkan tekanan darah dan mengurangi kadar oksigen dalam darah, yang semakin memperburuk kesehatan pembuluh darah. Berhenti merokok adalah langkah penting untuk mengurangi risiko stroke dan meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, perokok aktif memiliki risiko dua kali lipat terkena stroke dibandingkan dengan bukan perokok. Risiko ini semakin meningkat seiring dengan jumlah rokok yang dikonsumsi setiap hari dan lamanya seseorang merokok.
Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol berlebihan dapat menurunkan fungsi hati dan meningkatkan risiko pembekuan darah di otak, terutama pada mereka yang juga memiliki tekanan darah tinggi. Alkohol dapat menyebabkan peningkatan sementara tekanan darah, yang jika terjadi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah.
Selain itu, alkohol juga dapat memicu aritmia atau gangguan irama jantung, yang dapat meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah. Gumpalan darah ini dapat bergerak ke otak dan menyebabkan stroke.
Meskipun konsumsi alkohol dalam jumlah sedang mungkin memiliki efek perlindungan terhadap penyakit jantung, manfaat ini tidak berlaku untuk semua orang dan dapat dengan mudah hilang jika alkohol dikonsumsi secara berlebihan.
Kurang Gerak dan Aktivitas Fisik
Kurangnya olahraga dikombinasikan dengan pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan penumpukan lemak, mengganggu pembuluh darah, dan meningkatkan risiko stroke. Gaya hidup sedentary atau kurang gerak telah menjadi masalah umum di kalangan usia muda, terutama dengan meningkatnya penggunaan teknologi dan pekerjaan yang lebih banyak dilakukan di depan komputer.
Aktivitas fisik yang teratur membantu menjaga berat badan yang sehat, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Semua faktor ini berkontribusi pada kesehatan jantung dan pembuluh darah yang optimal.
Usahakan untuk melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, seperti berjalan kaki, berlari, berenang, atau bersepeda. Aktivitas fisik tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental dan mengurangi stres.
Pola Makan Buruk
Konsumsi makanan cepat saji dan kurangnya asupan serat dapat meningkatkan kadar kolesterol, yang merupakan faktor risiko stroke. Obesitas, yang sering dikaitkan dengan pola makan buruk, juga meningkatkan tekanan darah dan kolesterol, meningkatkan risiko stroke.
Pola makan yang kaya akan lemak jenuh, lemak trans, gula, dan garam dapat menyebabkan penumpukan plak di arteri, yang mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke. Sebaliknya, pola makan yang kaya akan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan protein tanpa lemak dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Batasi konsumsi makanan olahan, minuman manis, dan makanan cepat saji. Pilihlah makanan segar dan alami, serta masak sendiri di rumah untuk mengontrol bahan-bahan yang digunakan.
Stres
Tingkat stres yang tinggi meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Stres kronis dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk stroke. Saat stres, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung.
Stres juga dapat memicu perilaku tidak sehat seperti merokok, makan berlebihan, dan kurang tidur, yang semuanya meningkatkan risiko stroke. Temukan cara untuk mengelola stres dengan efektif, seperti meditasi, yoga, olahraga, atau menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih.
Jika stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.
Penggunaan Obat-obatan Terlarang
Obat-obatan seperti kokain dan amfetamin dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan pembekuan darah, dan merusak pembuluh darah, meningkatkan risiko stroke secara signifikan. Penggunaan obat-obatan terlarang dapat memiliki efek merusak pada jantung dan otak, bahkan setelah penggunaan jangka pendek.
Obat-obatan ini dapat menyebabkan vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah, yang mengurangi aliran darah ke otak dan meningkatkan risiko stroke. Selain itu, obat-obatan terlarang juga dapat memicu aritmia dan meningkatkan risiko pembekuan darah.
Hindari penggunaan obat-obatan terlarang sama sekali. Jika memiliki masalah dengan penyalahgunaan obat-obatan, segera cari bantuan profesional.
Begadang
Kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas dapat memengaruhi kesehatan tubuh dan meningkatkan risiko stroke, terutama pada usia 20-30 tahun. Saat tidur, tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak dan memulihkan energi. Kurang tidur dapat mengganggu proses ini dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk stroke.
Usahakan untuk tidur 7-8 jam setiap malam. Ciptakan rutinitas tidur yang teratur, hindari kafein dan alkohol sebelum tidur, serta pastikan kamar tidur nyaman dan gelap.
Jika mengalami masalah tidur, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.