Semua Toko di Mekkah Tutup Usai Buka Puasa Magrib, Cuma Toko Orang Indonesia yang Berani Buka
Ternyata, para pemilik toko itu melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Seperti apa ceritanya?
Tanah Suci Mekkah menjadi salah satu tempat yang paling banyak didamba oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk didatangi. Selain beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tak sedikit di antaranya yang ingin mencari peruntungan di sana.
Selayaknya pemilik dua toko yang diketahui merupakan WNI di Mekkah berikut ini. Menariknya, mereka justru tetap beroperasi di tengah situasi pasar yang sepi saat waktu berbuka puasa.
Padahal, semua toko lainnya tutup dan bakal kembali buka usai salat Isya’. Ternyata, para pemilik toko itu melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Seperti apa ceritanya? Berikut ulasan selengkapnya.
Toko di Pasar Kota Mekkah Tutup di Waktu Magrib
Bulan suci Ramadan memberi warna yang cukup berbeda di berbagai belahan dunia. Termasuk di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi.
Di sini, para warga yang memiliki toko atau usaha ternyata bakal memilih untuk tutup sejenak pada saat waktu berbuka puasa atau Magrib tiba. Fakta menarik ini seperti yang belum lama diungkap secara khusus oleh salah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Subang, Jawa Barat, Alman Mulyana melalui unggahan pribadinya dalam akun TikTok @almanmulyana.
“Mau tahu enggak situasi pasar di Arab Saudi setelah magrib atau buka puasa itu seperti apa? Nih, seperti ini nih, sepi. Semua toko tutup dan buka setelah salat isya’. Nanti setelah isya’, jangan harap di sini ada parkiran luas ya karena bakal penuh lagi,” ungkapnya.
Deretan toko terlihat ditutup dan tak menyediakan pelayanan bagi para pelanggan. Bahkan di area parkir kendaraan juga tampak sepi saat sebagian besar masyarakat di Mekkah tengah berbuka puasa.
Toko WNI Tetap Buka
Di tengah situasi pasar yang demikian, nyatanya ada salah satu hal yang menarik terjadi. Dua toko yang tak lain milik WNI justru tetap beroperasi.
“Kecuali toko orang Indonesia,” terang Alman dalam video.
Satu toko tersebut kedapatan menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari, sementara satu toko lainnya merupakan warung modern yang menjual hidangan khas nusantara berupa bakso.
Ternyata, hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Para WNI pemilik toko tersebut memilih untuk tetap buka lantaran memanfaatkan waktu. Dalam hal ini, mereka bisa saja mengambil celah keuntungan dari banyaknya toko yang kala itu tengah tutup. Sebab, para pembeli bisa saja kemudian lebih memilih untuk membeli barang atau makanan di salah satu toko yang buka di waktu Magrib.
“Mereka ini memanfaatkan waktu, dimana toko lain pada tutup, di sini masih tetap buka,” kata Alman.
Benar saja, salah satu penjaga toko warung bakso mengaku usaha yang di depan matanya itu cukup menguntungkan saat mampu melayani para pembeli sejak pukul 3 sore hingga 3 dini hari.
“Kalau bulan puasa, (toko) dari jam 3 sore sampai jam 3 malam,” ujar salah satu penjaga warung bakso.
“Dapat berapa kalau gitu?” tanya Alman.
“Lumayan, soalnya jadi panjang jamnya kalau jualan di bulan puasa,” ujarnya.
Saat dihampiri, salah satu penjaga toko kelontong di sebelah warung bakso tersebut bahkan berujar jika usaha miliknya yakni beroperasi selama 24 jam. Hal ini pun turut membuat Alman seketika melempar guyonan.
“Enggak tutup?” tanya Alman.
“Tokonya buka 24 jam,” balas salah satu penjaga toko.
“Buka 24 jam biar cepat kaya tuh,” celetuk Alman.
Banjir Sorotan
Fakta menarik dari sikap WNI para pemilik toko yang memilih untuk tetap buka di waktu Magrib membuat warganet langsung memberi berbagai tanggapan. Banyak di antaranya yang menyebut jika para WNI tersebut memiliki ketegasan, pintar memanfaatkan peluang bisnis, hingga tak sedikit pula yang memberi komentar menggelitik.
“Keren emang Indonesia,” tulis akun @misnah
“Izinnya mahal. Makanya mereka kejar target biar bisa bayar pajak. Sisanya buat berangkatin keluarga umrah,” tulis akun @maysaro
“Mungkin itu toko madura ya,” tulis akun @irzalmardelan
“Ada tukang parkir ga bang di situ?” tulis akun @dendy3231
“Indonesia dilawan wkwkw,” tulis akun @greatthings