Jejak Berdarah Amerika Serikat di Yaman, Inggris Kini Ikut Andil Pikul Dosa
Serangan udara yang dipimpin AS di Yaman sejak Maret 2025 menewaskan ratusan orang dan menghancurkan infrastruktur vital.
Serangan udara yang dipimpin oleh Amerika Serikat di Yaman memasuki fase kritis sejak dimulainya Operasi Rough Rider pada 15 Maret 2025. Dalam waktu singkat, hampir 300 orang dilaporkan tewas akibat serangan ini, yang ditujukan untuk menghancurkan target-target militer Houthi.
Namun, serangan tersebut juga menimbulkan dampak yang luas, menghancurkan infrastruktur vital dan menewaskan banyak warga sipil.
Menurut laporan dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED), antara 15 Maret dan 18 April 2025, terdapat 207 serangan yang mengakibatkan setidaknya 209 kematian. Lokasi serangan paling banyak terjadi di Saada, diikuti oleh Sana'a dan Hodeidah, yang merupakan jalur utama bantuan kemanusiaan bagi jutaan orang yang membutuhkan.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada 18 April di pelabuhan bahan bakar Ras Isa, yang menewaskan sedikitnya 80 orang dan melukai 150 lainnya. Serangan ini menyoroti betapa rentannya situasi kemanusiaan di Yaman, di mana infrastruktur yang seharusnya melayani kebutuhan dasar masyarakat justru menjadi sasaran serangan Amerika.
1000 Serangan AS Target Semua Sektor
Serangkaian serangan udara telah menargetkan Hodeida pada 20 Juli 2024, Serangan itu dilaporkan telah membakar sebuah depot bahan bakar di pelabuhan kata seorang koresponden AFP dan media yang dikelola Houthi. REUTERS
Data menunjukkan bahwa serangan udara yang dilakukan oleh AS tidak hanya mengincar pejuang Houthi, tetapi juga menghantam daerah padat penduduk, termasuk rumah-rumah, fasilitas medis, gedung pernikahan, sekolah, dan unit pasokan listrik.
Dalam rentang waktu yang singkat, lebih dari 1.000 target telah diserang, dengan klaim bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan fasilitas pembuatan senjata Houthi.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa serangan ini sering kali menyebabkan kerusakan yang lebih luas. Di Hodeidah, misalnya, pelabuhan yang menjadi jalur utama bantuan kemanusiaan juga mengalami serangan, membahayakan kehidupan jutaan orang yang bergantung pada pasokan bantuan.
Selain itu, pada 28 April, serangan di pusat penahanan migran di Saada menewaskan sedikitnya 68 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga negara Afrika yang mencoba memasuki Arab Saudi untuk mencari nafkah.
Inggris Gabung Serang Houthi Yaman & Biaya yang Dihabiskan AS
Inggris juga ikut terlibat dalam serangan udara di Saada itu. Otoritas Inggris mengklaim serangan udara AS dan Inggris di dekat ibu kota Yaman itu menargetkan fasilitas produksi pesawat tak berawak milik Houthi.
Serangan itu, yang terjadi sekitar 24 km (15 mil) selatan Sanaa semalam, menghantam bangunan-bangunan yang diidentifikasi oleh intelijen Inggris sebagai lokasi yang digunakan untuk memproduksi pesawat tak berawak yang telah digunakan dalam serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah, menurut Kementerian Pertahanan Inggris dilansir Aljazeera, Jumat (2/5/2025).
Kementerian mengatakan operasi itu direncanakan untuk meminimalkan korban sipil, meskipun tidak ada angka yang diberikan.AS, yang telah melancarkan serangan berulang kali terhadap target-target Houthi selama sebulan terakhir, belum mengomentari operasi gabungan tersebut.
Operasi Rough Rider, yang dilaksanakan tanpa persetujuan Kongres AS, diperkirakan menelan biaya lebih dari USD 1 miliar.
Meskipun ada klaim bahwa operasi ini bertujuan untuk mengurangi ancaman dari Houthi, banyak pihak mempertanyakan efektivitas dan dampak jangka panjang dari serangan ini.
Houthi: Serangan ke Kapal di Laut Merah Bentuk Solidaritas pada Palestina
Houthi mengatakan mereka melancarkan serangan terhadap pengiriman barang di Laut Merah yang terkait dengan Israel sebagai respons terhadap perang Israel di Gaza dan sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina.
Selama gencatan senjata di Gaza, pasukan Houthi telah menghentikan serangan mereka tetapi melanjutkannya pada tanggal 12 Maret, setelah berakhirnya batas waktu yang mereka tetapkan bagi Israel untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, menyampaikan bahwa serangan udara Amerika Serikat terhadap Yaman merupakan bagian dari dukungan terbuka terhadap Israel dan menjadi bagian dari konflik besar antara rakyat Yaman dan rezim pendudukan Israel.
Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi pada Kamis, al-Houthi menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan Yaman terhadap fasilitas strategis di wilayah yang dikuasai Israel akan tetap berlanjut.
"Militer AS tidak dapat menghentikannya dengan cara apa pun,” tegasnya dilansir presstv.
Ia juga menyoroti komitmen gerakannya terhadap operasi maritim di perairan penting.
“Operasi angkatan laut kami juga akan tetap dipertahankan, dan pelayaran kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah, Selat Bab el-Mandab, Teluk Aden, dan Laut Arab tidak akan diizinkan sama sekali. Musuh Israel sangat ingin mendapatkan kembali kemampuan untuk bernavigasi di perairan Laut Merah,” ujarnya.