Cerita Mayjen TNI Kosasih, dari Marbot dan Kuli Bangunan Menjadi Jenderal yang Disegani
Kosasih menceritakan awal kehidupannya yang sederhana di Desa Kadug Kacang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang.
Mayjen TNI Kosasih, Pangdam III/Siliwangi, dikenal dengan julukan "Jenderal Marbot" atau "Jenderal Santri". Julukan itu bukan tanpa alasan. Sejak kecil, Kosasih telah aktif menjaga masjid dan mengajar ngaji di lingkungan tempat tinggalnya, yang kemudian membentuk karakter dan disiplin yang membawanya menjadi seorang perwira tinggi TNI.
Kosasih menceritakan awal kehidupannya yang sederhana di Desa Kadug Kacang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Saat kelas 6 SD, ia pindah ke Jakarta demi mengejar pendidikan yang lebih baik, karena jarak ke sekolah SMP dan SMA di kampungnya cukup jauh dan transportasi masih terbatas.
"Kalau enggak punya duit, ya jalan kaki. Jadi sudah terbiasa jalan kaki sejak kecil. Mungkin itu yang bikin masuk tentara tidak susah karena sudah terbiasa fisiknya," ujarnya seperti dikutip dari kanal YouTube Kodam Siliwangi, Rabu (8/10).
Di Jakarta, Kosasih tinggal di rumah kontrakan kecil dekat masjid. Karena keterbatasan ruang, ia rela menjadi marbot, yakni orang yang menjaga dan merawat masjid. Selain itu, ia juga mengajar ngaji kepada anak-anak sekitar masjid. Pengalaman ini berlangsung hingga ia lulus SMA.
"Menungguin masjid, buka pintu, gelar tikar, itu saya lakukan sejak kecil sampai SMA. Jadi memang sudah terlatih nilai-nilai yang membentuk saya," katanya.
Selain itu, Kosasih juga bekerja sebagai kuli bangunan di pagi hari dan sekolah di siang hari demi membantu keluarga. Ia juga pernah berjualan es mambo dan koran di depan masjid.
Hobi sepak bola turut mengisi masa kecilnya dan membantu menjaga kebugaran fisiknya yang penting untuk karier militernya kelak.
"Saya sudah terbiasa lari dan olahraga sejak kecil," ujarnya.
Meski berasal dari latar belakang santri dan marbot, Kosasih menegaskan bahwa jalan menjadi tentara terbuka untuk siapa saja. Awalnya, orangtua menginginkan dia melanjutkan ke IAIN untuk menjadi ustaz, namun pilihan hidup membawanya ke jalur militer secara tidak sengaja.
Kosasih bercerita tentang pertemuannya dengan seorang anggota marinir dari Ambon yang menginspirasinya untuk masuk tentara.
"Saya berharap bisa memperbaiki alat tentara,” katanya.
Kini, Mayjen TNI Kosasih dikenal sebagai sosok yang disiplin, sederhana, dan memiliki dedikasi tinggi, yang dibentuk dari nilai-nilai kehidupan masa kecilnya sebagai marbot dan santri di Tanah Pasundan.