Alif Jebolan ITB Bongkar Rumus Bubur Ayam Enak Diaduk Atau Tidak, Hasilnya Bikin Melongo
Alif, jebolan Matematika ITB mengungkap rasa bubur ayam dengan rumus Matematika dan Fisika.
Melansir dari akun TikTok @aliftowew, Selasa (15/7), Alif menjelaskan perdebatan tentang bubur diaduk dan tidak dari sudut pandang Matematika.
Menurutnya, ada komponen tertentu yang membuat rasa dari bubur ayam bisa dipengaruhi dari cara makannya.
Pertama, Alif mencoba menganalisis dari sisi panas yang mempengaruhi tingkat kenyamanan makanan tersebut.
"Nih, di sini kita gunain kondisi panas untuk mencari seberapa cepat suhu merata. Ternyata kalau diaduk itu 45 Joule," katanya.
Ia membandingkan bagaimana kondisi bubur ayam yang diaduk dengan yang tidak diaduk.
"Kalau enggak diaduk itu 19 Joule. Artinya apa? Artinya panas ini berpindah 40% lebih banyak kalau diaduk. Jadi kalau diaduk itu suhunya seragam, nyaman dimakan."
"Tapi kalau enggak diaduk, masih panas banget. Ada yang udah panas banget, ada yang udah dingin banget," ungkapnya.
Selain dari sisi panas, ia juga menganalisis bubur ayam dari sisi kombinasi rasa. Ia memberikan contoh orang yang suka mengaduk dan tidak diaduk masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri.
"Nah misalkan dalam bubur ini ada ayam, sambal, sampai kerupuk. Ada 6. Berarti kita gunain rumus kombinasi, ini ada 63 kombinasi rasa. Artinya kalau enggak diaduk, rasanya itu seperti kita berpetualangan rasa."
"Sendokan pertama bubur ayam sambal. Sendokan kedua bubur kerupuk daun bawang. Dan beda-beda gitu ya. Tapi kalau diaduk rasanya konsisten karena tercampur rata," sambungnya.
Alif juga menggunakan rumus entropi untuk mengukur variasi pengalaman rasa makanan. Menurutnya hasil dari bubur diaduk atau tidak memiliki nilai yang berpengaruh pada kestabilan rasa.
"Kemudian dari entropi rasa. Ini untuk mengukur seberapa variatif pengalaman makanan. Anggap tadi kombinasi rasa itu semua peluangnya 0,2 semua. Kita gunain rumus entropi, dapatlah ternyata kalau nggak diaduk itu 2,32 bit. Tapi kalau diaduk, ini karena sama-sama jadi 0 bit."
"Artinya apa? Kalau diaduk itu rasanya stabil, kalau nggak diaduk rasanya itu dinamis dan tak tergugah. Jadi kesimpulannya apa? Nah kesimpulannya kayak gini," tambahnya.
Dari hasil yang diperoleh, ditemukan bahwa orang yang menyantap bubur diaduk dan tidak sama-sama memiliki karakter yang berbeda tergantung selera mereka.
"Dari induksi kombinasi entropi itu artinya ya tergantung. Kalau teman-teman sukanya yang kenyamanan, efisiensi, stabil, dan tidak suka kejutan, nah lebih baik buburnya diaduk aja. Tapi kalau teman-teman suka orangnya itu dinamis, kejutan, pengen pengalaman rasa yang lebih kompleks, nah itu jangan diaduk," pungkasnya.