6 Tradisi Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi yang Ternyata Berbeda
Intip 6 perbedaan tradisi Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi, mulai dari hewan kurban hingga durasi libur nasional.
Hari Raya Idul Adha menjadi momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Indonesia dan Arab Saudi, dua negara dengan populasi Muslim yang besar memiliki tradisi Idul Adha yang berbeda.
Perbedaan ini mencerminkan kekayaan budaya dan interpretasi nilai-nilai Islam yang beragam. Lalu, apa saja perbedaan tradisi Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi?
Meskipun sama-sama merayakan dengan penuh suka cita, terdapat beberapa perbedaan mencolok dalam tradisi Idul Adha di kedua negara ini. Perbedaan ini meliputi berbagai aspek, mulai dari pemilihan hewan kurban hingga tradisi lokal yang menyertai perayaan.
Perbedaan Jenis Hewan Kurban yang Dipilih
Salah satu perbedaan utama terletak pada jenis hewan kurban yang umum digunakan. Di Indonesia, sapi dan kambing menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang ingin berkurban. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan dan harga yang relatif terjangkau.
Sementara itu, di Arab Saudi, unta menjadi hewan kurban yang populer selain sapi dan kambing. Penggunaan unta sebagai hewan kurban lebih umum karena hewan ini lebih mudah ditemukan di wilayah tersebut. Selain itu, unta juga memiliki nilai simbolis dalam budaya Arab.
Pembagian Daging Kurban: Skala dan Jangkauan
Tradisi pembagian daging kurban juga memiliki perbedaan yang signifikan. Di Indonesia, daging kurban umumnya dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan fakir miskin di lingkungan sekitar.
Berbeda dengan di Arab Saudi, pembagian daging kurban tidak hanya terbatas pada lingkungan sekitar, tapi juga disalurkan ke negara-negara tetangga. Skala pembagian di Arab Saudi bisa lebih luas mengingat banyaknya jemaah haji yang datang dari berbagai negara.
Perbedaan ini mencerminkan perbedaan geografis dan demografis antara kedua negara. Indonesia memiliki populasi yang lebih padat dan tersebar di berbagai pulau. Sementara Arab Saudi memiliki peran sentral dalam ibadah haji yang menarik jutaan umat Muslim dari seluruh dunia.
Durasi Hari Libur Nasional saat Idul Adha
Penetapan hari libur nasional juga menjadi perbedaan yang menarik. Di Indonesia, Idul Adha biasanya ditetapkan sebagai hari libur nasional selama satu hari. Namun, di Arab Saudi, Idul Adha ditetapkan sebagai hari libur nasional selama 3-4 hari.
Durasi libur yang lebih panjang ini menunjukkan betapa pentingnya perayaan ini dalam kalender nasional mereka. Hal ini juga terkait dengan rangkaian ibadah haji yang berlangsung selama beberapa hari.
Perbedaan durasi libur nasional ini mencerminkan prioritas dan fokus masing-masing negara dalam merayakan Idul Adha. Indonesia lebih menekankan pada aspek sosial dan kebersamaan keluarga, sementara Arab Saudi lebih fokus pada aspek keagamaan dan ibadah haji.
Tradisi Silaturahmi
Indonesia memiliki beragam tradisi lokal yang unik dalam merayakan Idul Adha. Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan rasa syukur dan kegembiraan menyambut hari raya kurban ini.
Muslim di Arab Saudi juga memiliki tradisi silaturahmi saat Idul Adha, meskipun dalam lingkup yang lebih kecil dibandingkan Idul Fitri. Biasanya, umat Islam di Arab Saudi akan mengunjungi sanak saudara dan tetangga terdekat untuk silaturahmi pada Idul Adha.
Mereka menggunakan kesempatan itu untuk saling bertukar hadiah. Berbeda dengan Indonesia, tradisi silaturahmi biasanya digelar saat Hari Raya Idul Fitri. Sementara, pada Idul Adha umat Islam di Indonesia jarang bersilaturahmi ke rumah sanak saudara.
Tradisi Memberi Hadiah
Dilansir dari laman The Culture Trip, perayaan Idul Adha di Arab Saudi biasanya diwarnai dengan tradisi memberikan hadiah kepada anak-anak. Hadiah tersebut dapat berupa baju, camilan manis, dan uang.
Setelah sholat Idul Adha, biasanya anak-anak di Arab Saudi juga mendapatkan angpao berupa uang yang dikenal sebagai eidia. Berbeda dengan Indonesia, tradisi memberi angpao ini biasanya dilakukan saat Hari Raya Idul Fitri.
Perbedaan Olahan Daging
Jika di Indonesia daging kurban umumnya diolah menjadi rendang, semur, sate, dan lainnya. Sedangkan di Arab Saudi, daging kurban diolah menjadi hamees, yakni daging dan hati yang dimasak dengan bawang, tomat, dan bumbu rempah.