Viral, Karyawan Perempuan ini Rela Tidur di Toilet Kantor karena Gaji Kecil
Kisah ini mencerminkan krisis biaya hidup yang kian membebani generasi muda di kota-kota besar di Tiongkok.
Seorang perempuan muda asal China menjadi sorotan publik setelah diketahui tinggal dan tidur diam-diam di toilet kantor selama berminggu-minggu karena tak mampu membayar sewa kamar. Kisah ini mencerminkan krisis biaya hidup yang kian membebani generasi muda di kota-kota besar di Tiongkok.
Mengutip SCMP, Senin (31/3), perempuan berusia 20-an tahun itu diketahui membayar hanya 7 dolar AS per bulan untuk menyewa loker di kantor tempat ia bekerja di Guangzhou.
Namun, karena biaya hidup yang tinggi dan upah yang rendah, ia akhirnya memilih untuk tinggal di toilet perempuan di kantor, tempat ia menyimpan barang-barangnya, mandi, dan tidur diam-diam saat malam.
Perilakunya terungkap setelah rekaman CCTV dan laporan dari rekan kerja menyebar di media sosial Tiongkok. Dalam sebuah video, ia terlihat membawa bantal, selimut, dan alat mandi ke dalam toilet umum, serta mengenakan jas kantor saat keluar di pagi hari seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Perusahaan tempat ia bekerja menyatakan bahwa tindakan ini melanggar aturan internal, namun netizen justru memberikan simpati, menyebut perempuan itu sebagai “simbol nyata generasi muda yang kesulitan hidup”.
Banyak warganet menyoroti tekanan ekonomi yang dialami kaum muda di kota metropolitan, di tengah harga sewa yang tinggi dan prospek kerja yang stagnan.
“Ini bukan soal pelanggaran, tapi tentang sistem yang memaksa orang muda untuk memilih hidup ekstrem demi bertahan,” tulis salah satu komentar populer di platform Weibo.
Menurut data pemerintah Tiongkok, sewa apartemen satu kamar di pusat kota Guangzhou bisa mencapai lebih dari 4.000 yuan (sekitar Rp 8,8 juta) per bulan, jauh melampaui kemampuan finansial banyak pekerja muda.
Sementara itu, tingkat pengangguran usia muda (16–24 tahun) di Tiongkok mencapai lebih dari 14% pada awal 2025, menurut laporan resmi.
Fenomena “tidur diam-diam di kantor” bukan kali pertama terjadi di Tiongkok, namun kasus ini kembali menyalakan perdebatan soal ketimpangan ekonomi, kesejahteraan karyawan, dan krisis perumahan di kalangan generasi muda.
Hingga kini, perempuan tersebut belum memberikan komentar resmi. Perusahaannya menyatakan sedang mengevaluasi langkah lanjutan, meski tekanan publik mendorong agar ia diberi bantuan, bukan hukuman.
Kisah ini memicu diskusi luas tentang bagaimana kota-kota besar di Tiongkok telah menjadi lingkungan yang tidak ramah bagi anak muda, dan menyoroti kebutuhan mendesak akan kebijakan perumahan yang lebih inklusif.