Saran Bos NVIDIA Jensen Huang Hingga Elon Musk Bisa Jadi Pertimbangan Ambil Jurusan Kuliah, yang Jelas Bukan IT
Saran ini penting dari Jensen Huang dan Elon Musk perlu dicatat.
Jensen Huang, CEO Nvidia yang kini memimpin perusahaan paling bernilai di dunia, mengungkapkan pandangan mengejutkan soal masa depan teknologi dan pendidikan.
Dalam sesi wawancara di Beijing, ia ditanya apa yang akan ia pilih jika menjadi lulusan berusia 22 tahun pada tahun 2025. Jawabannya bukan kecerdasan buatan dan coding, melainkan fisika.
Menurut laporan EconomicTimes, Rabu (30/7), Huang menyebut bahwa dirinya yang lebih muda kemungkinan besar akan memilih studi ilmu fisika ketimbang ilmu perangkat lunak.
“Gelombang selanjutnya membutuhkan pemahaman tentang hukum-hukum fisika, gesekan, inersia, dan sebab-akibat,” ujarnya.
Pandangan tersebut mencerminkan arah baru yang diyakini Huang akan menjadi masa depan dunia teknologi: bukan hanya Artificial Intelligence (AI) yang mampu berpikir, tapi AI yang mampu berinteraksi secara fisik dengan dunia nyata.
Menuju Era "Physical AI"
Huang menjelaskan bahwa kita telah melewati era Perception AI dan Generative AI, dan kini memasuki era baru yang ia sebut sebagai Reasoning AI. Tapi langkah berikutnya, menurutnya, adalah Physical AI—AI yang mampu memahami konsep seperti keberadaan objek, gaya dorong, dan kesadaran situasional.
“Ini bukan lagi soal data saja. Ini tentang bagaimana data itu berinteraksi dengan dunia fisik,” kata Huang, sebagaimana dikutip dari EconomicTimes.
Penerapan AI semacam ini akan melibatkan disiplin ilmu seperti fisika, mekanika, hingga ilmu material—dan menjadi fondasi penting dalam pengembangan robotika, kendaraan otonom, dan perangkat cerdas lainnya di masa depan.
Kembali ke Ilmu Dasar
Huang bukan satu-satunya tokoh teknologi yang mendorong generasi muda untuk kembali menguasai sains dasar. CEO Telegram, Pavel Durov, baru-baru ini menyarankan anak muda untuk fokus pada matematika sebagai alat pemecahan masalah terbaik. Elon Musk pun menambahkan: “Fisika (dengan matematika).”
Ketiganya, mewakili perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia, menyampaikan pesan yang senada: di balik AI, robotika, dan teknologi masa depan, terdapat satu fondasi kuat yang tak tergantikan—kemampuan berpikir logis dan pemahaman atas hukum-hukum alam.
Dengan semakin berkembangnya dunia AI dan teknologi fisik, Huang menegaskan bahwa pendekatan interdisipliner yang menggabungkan sains, teknik, dan pemikiran mendalam akan menjadi kunci utama menghadapi dunia kerja dan inovasi yang makin kompleks.