Racun Laba-laba yang ‘Berbahaya’ Bagi Pria, Bikin Ereksi Lama
Kabar ini bisa menjadi informasi penting bagi pria yang suka menelan pil biru demi ereksi.
Ilmuwan di Brasil mengembangkan obat disfungsi ereksi berbasis molekul dari racun laba-laba pengembara Brasil (Phoneutria nigriventer), menandai potensi alternatif terapi baru bagi pasien yang tidak merespons Viagra atau Cialis.
Venom laba-laba ini dikenal memicu gejala parah pada korban gigitan, termasuk ereksi berkepanjangan yang menyakitkan hingga risiko kerusakan jaringan. Para peneliti memanfaatkan sifat unik ini untuk mengisolasi molekul penyebab ereksi dan mengujinya secara medis.
Mengutip LiveScience, Senin (14/7), tim ilmuwan di Rumah Sakit Santa Casa Belo Horizonte, dipimpin Prof. Maria Elena de Lima, telah meneliti venom laba-laba ini selama lebih dari 20 tahun. Pada 2008, mereka berhasil mengidentifikasi molekul yang menyebabkan ereksi involunter pada korban.
Hasil riset ini memicu pengembangan versi sintetis molekul bernama BZ371A. Dalam uji praklinis pada tikus dan mencit, gel yang dioleskan ke pangkal paha hewan percobaan menghasilkan ereksi dengan cara meningkatkan pelepasan nitric oxide (NO), memperlancar aliran darah ke penis.
Berbeda dari Viagra yang bekerja dengan mencegah pemecahan nitric oxide, molekul ini justru merangsang pelepasan langsung NO, mekanisme yang dianggap menjanjikan terutama bagi pasien dengan diabetes, tekanan darah tinggi, atau usia lanjut.
Uji Awal Menjanjikan
Menurut Prof. de Lima, uji laboratorium menunjukkan molekul tersebut efektif pada dosis sangat rendah tanpa menimbulkan efek toksik. "Tes sejauh ini menunjukkan senyawa ini bekerja dengan dosis minimal dan tidak memiliki efek samping sistemik yang berbahaya," katanya.
Obat ini juga diuji pada pria dan wanita dalam uji keamanan tahap awal. Dr. Paulo Lacativa, CEO Biozeus (perusahaan bioteknologi yang mengembangkan obat ini), menegaskan efeknya bersifat lokal tanpa dampak sistemik negatif.
Saat ini, BZ371A memasuki fase kedua uji klinis pada manusia. Fokus awal adalah pasien pria dengan disfungsi ereksi akibat prostatektomi, prosedur pengangkatan prostat yang kerap memengaruhi fungsi seksual.
Data praklinis menunjukkan molekul ini efektif bahkan pada tikus tua serta tikus dengan kondisi medis yang membuat terapi disfungsi ereksi konvensional kurang berhasil.
Potensi untuk Terapi Wanita
Selain untuk pria, tim peneliti juga mengeksplorasi penggunaan gel ini untuk membantu disfungsi seksual pada wanita. Dalam uji awal, gel berbasis molekul venom ini terbukti meningkatkan aliran darah ke area genital wanita, membuka kemungkinan terapi yang lebih inklusif.
Obat disfungsi ereksi berbasis sildenafil (Viagra) atau tadalafil (Cialis) tidak selalu cocok untuk semua pasien, terutama yang mengonsumsi nitrat untuk penyakit jantung. Kombinasi itu bisa menurunkan tekanan darah secara berbahaya.
Selain itu, beberapa pasien dengan masalah ginjal, hati, atau saluran kemih berat juga tidak dianjurkan memakai obat konvensional. Molekul baru ini menawarkan alternatif berbasis bioteknologi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan tersebut.
Obat ini masih memerlukan uji klinis fase tiga sebelum bisa diajukan untuk persetujuan otoritas kesehatan. Namun hasil sejauh ini dinilai sangat menjanjikan oleh para peneliti.
Jika lolos pengujian akhir, obat ini berpotensi menjadi terapi baru yang lebih aman, efektif, dan inklusif bagi jutaan orang yang mengalami disfungsi ereksi di seluruh dunia.