Penemuan Spesies Baru Cecak Jarilengkung ini Diberi Nama Pecelmadiun
Spesies ini diberi nama Cyrtodactylus pecelmadiun, terinspirasi dari kuliner khas Jawa Timur, pecel Madiun.
Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi spesies baru cecak jarilengkung (genus Cyrtodactylus) yang ditemukan di Jawa Timur. Spesies ini diberi nama Cyrtodactylus pecelmadiun, terinspirasi dari kuliner khas Jawa Timur, pecel Madiun.
Penemuan ini dilakukan di sekitar wilayah Madiun, tepatnya di Maospati dan Mojokerto. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto, menjelaskan bahwa spesies ini banyak ditemukan di lingkungan urban seperti tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun permukiman desa.
“Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dengan Cyrtodactylus papeda dari Pulau Obi dan Cyrtodactylus tehetehe dari Kepulauan Derawan,” ujar Awal dalam keterangannya, Sabtu (15/3).
Secara morfologi, C. pecelmadiun memiliki warna dasar cokelat kehitaman. Cecak jantan dewasa memiliki panjang tubuh (Snout-Vent Length/SVL) hingga 67,2 mm, sementara betina mencapai 59,0 mm. Spesies ini memiliki 18–20 baris tuberkular dorsal yang tidak teratur di bagian tengah tubuh, serta 26–28 baris tuberkular antara ketiak dan selangkangan. Pada individu jantan, terdapat ceruk precloacal dengan 32–37 pori precloacofemoral, sementara bagian subkaudalnya tidak memiliki sisik lebar.
Secara habitat, C. pecelmadiun merupakan spesies generalis yang hidup tak lebih dari 40 cm di atas tanah. Keberadaannya di lingkungan dekat manusia menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan baik di berbagai habitat.
Penemuan ini memperkaya daftar spesies Cyrtodactylus yang telah ditemukan di Jawa. Sebelumnya, spesies pertama yang dideskripsi adalah C. marmoratus oleh Gray pada 1831, diikuti oleh C. fumosus yang dideskripsi oleh Müller pada 1895. Seiring perkembangan riset, beberapa spesies baru dari Jawa telah diidentifikasi, seperti C. semiadii (2014), C. petani (2015), C. klakahensis (2016), dan C. belanegara (2024).
Secara filogenetik, C. pecelmadiun berkerabat dekat dengan C. petani, dengan jarak genetik 0,1–1,6%. Spesies ini merupakan bukti kedua keberadaan grup darmandvillei di Jawa setelah C. petani. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa pada edisi 16 Januari 2025 dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
Peneliti BRIN menegaskan bahwa penemuan ini semakin mendorong eksplorasi lebih lanjut guna mengungkap keragaman tersembunyi dari Cyrtodactylus di Jawa, mengingat masih banyak spesies yang belum teridentifikasi secara menyeluruh.