Kisah Kodak yang Abai dengan Tanda-tanda Perubahan Berujung Bangkrut, Padahal Sudah Diperingatkan
Kodak, ikon kamera film, terpuruk karena menolak mengembangkan kamera digital yang diciptakan oleh insinyur mereka sendiri di tahun 1975.
Kodak, merek kamera yang pernah menjadi simbol kesuksesan industri fotografi, kini menjadi cerita masa lalu. Perusahaan ini mencapai puncak kejayaannya pada akhir abad ke-20, dengan nilai perusahaan mencapai USD31 miliar pada 1996. Namun, kesuksesan itu berakhir tragis ketika Kodak gagal beradaptasi dengan revolusi kamera digital.
Pada 1975, seorang insinyur Kodak, Steve Sasson, menciptakan kamera digital pertama di dunia. Penemuan ini adalah langkah revolusioner dalam dunia fotografi, tetapi perusahaan memutuskan untuk mengabaikannya. Mengapa begitu?
Mengutip Unilad, Kamis (12/12), Kodak merasa bahwa kamera digital akan mengancam penjualan film, yang saat itu merupakan sumber pendapatan utama mereka. Sebaliknya, Sasson diminta untuk “mengubur” inovasi tersebut dan tidak terlalu membicarakannya.
“Menjual film secara terpisah dari kamera terlalu menguntungkan untuk dikorbankan,” ujar salah satu eksekutif Kodak pada waktu itu.
Strategi ini terbukti berhasil dalam jangka pendek. Kodak tetap menjadi pemimpin pasar kamera selama beberapa dekade berikutnya, meskipun teknologi kamera digital mulai berkembang.
Namun, ketika kamera digital mulai mendominasi pasar pada awal 2000-an, Kodak terlambat untuk bergabung. Kompetitor yang lebih adaptif seperti Canon dan Nikon segera mengambil alih pasar.
Puncak dan Kejatuhan Kodak
Pada masa kejayaannya di 1996, Kodak memimpin industri kamera dunia. Namun, pada 2012, perusahaan tersebut mengajukan kebangkrutan, sebuah langkah yang menandai akhir dari era kejayaan mereka.
Meski Kodak masih beroperasi hingga hari ini, perusahaan ini lebih dikenal sebagai bayangan dari masa lalunya. Kamera film mereka sekarang hanya diminati oleh kolektor dan penggemar nostalgia.
Kisah Kodak menjadi contoh nyata bagaimana keengganan beradaptasi dengan perubahan teknologi dapat membawa kehancuran. Di era digital yang terus berkembang, inovasi dan fleksibilitas menjadi kunci untuk bertahan hidup dalam persaingan.