Trivia Jurnalis: Susahnya Memotret Pakai Kamera Film, Dulu Butuh Kamar Gelap!
Jurnalis foto senior berbagi pengalaman pahit saat memotret dengan kamera film, dari salah identifikasi objek hingga proses rumit yang butuh kamar gelap. Penasaran tantangannya?
Seorang jurnalis foto senior dari ANTARA, Audy Mirza Alwi, pernah mengalami insiden menegangkan di masa lalu akibat kesalahan fatal dalam menulis keterangan foto. Kejadian ini terjadi saat ia masih aktif memotret menggunakan kamera film, di mana ia ditegur langsung oleh Wakil Pemimpin Redaksi ANTARA, Parni Hadi. Kesalahan tersebut bermula dari kekeliruan identifikasi tokoh penting dalam sebuah foto.
Insiden ini berawal ketika Alwi salah mengidentifikasi Gubernur Bank Indonesia sebagai Menteri Kehutanan dari negatif film hitam putih. Proses identifikasi yang rumit dengan keterbatasan teknologi saat itu menjadi penyebab utama kekeliruan ini. Ia harus melihat negatif film menggunakan kaca pembesar, yang ternyata menghasilkan interpretasi yang salah.
Pengalaman pahit tersebut tidak hanya menjadi pelajaran berharga bagi Alwi, tetapi juga mendorongnya untuk berbagi wawasan mengenai seluk-beluk dan tantangan memotret dengan kamera film. Kisah ini menyoroti betapa berbedanya dunia fotografi sebelum era digital, di mana setiap jepretan menuntut ketelitian ekstra dan pemahaman mendalam.
Kamera Film: Sebuah Tantangan di Era Pra-Digital
Memotret menggunakan kamera film adalah sebuah seni yang menuntut kesabaran dan ketelitian tinggi, melibatkan serangkaian tahapan yang kompleks. Berbeda jauh dengan kemudahan kamera digital, proses fotografi film dimulai dari pemotretan, dilanjutkan dengan pencucian film, dan diakhiri dengan pencetakan foto. Setiap tahap memiliki aturan dan tantangan tersendiri yang harus dikuasai fotografer.
Tahap awal, memotret, seringkali terkendala ketersediaan film atau proses penggulungan film dari gulungan besar ke rol kecil yang harus dilakukan di kamar gelap atau menggunakan changing bag. Setelah pemotretan, film harus dicuci menggunakan larutan kimia khusus seperti developer dan fixer, yang tak jarang harus diracik sendiri. Waktu pencucian harus sangat presisi, disesuaikan dengan kondisi pencahayaan saat pemotretan untuk mendapatkan hasil negatif film yang optimal.
Kesulitan berlanjut pada tahap pencetakan foto, yang juga harus dilakukan di kamar gelap dengan mesin pencetak dan kertas foto. Negatif film yang terlalu pekat atau terlalu transparan akibat kesalahan pencucian memerlukan penyesuaian waktu pencahayaan yang cermat agar citra tidak "gosong" atau kurang jelas. Kontras emulsi pada seluloid sangat krusial untuk menghasilkan citra yang baik.
Audy Mirza Alwi mencontohkan, kasus salah identifikasi antara Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh dan Menteri Kehutanan Soedjarwo menunjukkan betapa sulitnya membaca citra pada negatif film hitam putih. Keduanya memiliki kemiripan wajah dan berkacamata, dan citra hitam putih hanya menampilkan gradasi abu-abu, sangat berbeda dengan film berwarna yang menampilkan objek lebih nyata. Kesalahan kecil dalam interpretasi bisa berakibat fatal, seperti salah penulisan caption foto.
Pewarta foto Republika, Yogi Ardhi, menekankan bahwa kamera film menuntut efektivitas dan kejelian dalam memilih momen. Dengan keterbatasan 36 hingga 38 shot per rol, setiap jepretan harus dimaksimalkan untuk menangkap peak moment, terutama dalam konteks jurnalistik. Sementara itu, pewarta foto Media Indonesia, Agung Wibowo, atau Sastro, menyoroti pentingnya kemampuan menentukan intensitas cahaya untuk pengaturan diafragma dan kecepatan yang tepat, mengingat tidak ada pratinjau langsung seperti pada kamera digital.
Sumber: AntaraNews