Ilmuwan Temukan Alasan Kenapa Panda Makan Bambu, Padahal Nenek Moyangnya Pemakan Daging
Para ilmuwan masih dibuat heran karena tubuh panda sebenarnya lebih mirip pemakan daging dibandingkan herbivora.
Panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) dikenal sebagai hewan ikonik pemakan bambu. Namun, para ilmuwan masih dibuat heran karena tubuh panda sebenarnya lebih mirip pemakan daging dibandingkan herbivora.
Saluran cernanya tidak memiliki sistem fermentasi khusus untuk mencerna serat, dan mikroba di ususnya justru lebih efektif memecah protein. Meski begitu, panda bertahan hidup dengan mengunyah bambu hingga 38 kilogram per hari.
“Panda adalah mesin penghancur bambu berjalan,” ujar Feng Li, peneliti dari China West Normal University dikutip dari LiveScience, Senin (5/5).
Ia menyebut perubahan diet panda terjadi sekitar tujuh juta tahun lalu, ketika nenek moyangnya yang omnivora mulai mengonsumsi bambu akibat keterbatasan sumber makanan. Panda yang terbiasa makan bambu bertahan, sementara karnivora lain tersingkir.
“Ini adalah bentuk ‘survival of the fittest’, meski tubuh mereka sebenarnya tidak ideal sebagai pemakan tumbuhan,” katanya.
Tubuh panda lamban, metabolisme mereka melambat secara genetik, dan mereka kehilangan kemampuan merasakan umami—rasa khas daging.
Peneliti dari University of Aberdeen, John Speakman, menemukan mutasi gen pengatur hormon tiroid yang memperlambat pembakaran energi mereka. Ketika gen tersebut disalin ke tikus, metabolisme hewan itu ikut melambat.
Penyesuaian juga terjadi lewat bambu itu sendiri. Studi Feng Li menemukan bahwa molekul microRNA dari bambu yang masuk ke tubuh panda dapat memengaruhi gen mereka, termasuk menambah nafsu makan dan menekan sensitivitas terhadap rasa pahit. Bambu secara biologis ikut membentuk tubuh dan perilaku panda agar lebih cocok terhadap makanan itu.
Meski tidak memiliki lambung kompleks, panda punya “jempol palsu” dari tulang pergelangan tangan untuk mencengkeram bambu, serta otot rahang kuat yang menghasilkan daya gigitan lebih besar dari beruang kutub. "Wajah besar mereka berasal dari otot rahang yang luar biasa kuat," ujar Speakman.
Feng Li menyimpulkan bahwa lambannya panda justru merupakan strategi adaptif. “Kemalasan panda adalah bentuk kebijaksanaan bertahan hidup,” ujarnya.