Duduk di Mana Agar Selamat dari Kecelakaan Pesawat? Ini Kata Pakar Penerbangan
Posisi duduk disebut-sebut menentukan keselamatan dalam sebuah kecelakaan pesawat. Namun itu tidak selamanya. Tergantung dinamika kecelakaannya.
Setiap kali berita tentang insiden pesawat muncul—mulai dari pendaratan darurat hingga tabrakan tak terduga—banyak penumpang bertanya-tanya: adakah tempat duduk paling aman di pesawat?
Faktanya, mengutip LiveScience, Jumat (13/6), meski terdengar mengkhawatirkan, terbang tetap jadi moda transportasi paling aman. Menurut Cheng-Lung Wu, dosen di School of Aviation, University of New South Wales, Australia, tingkat fatalitas dalam penerbangan komersial jauh lebih rendah dibanding mengemudi.
Di Amerika Serikat, peluang tewas dalam satu penerbangan komersial adalah 1 banding 13,7 juta, menurut studi tahun 2024 dari Journal of Air Transport Management.
Lebih dari itu, data National Transportation Safety Board (NTSB) menyebutkan bahwa sekitar 94% kecelakaan pesawat antara 2001–2017 memiliki tingkat keselamatan 100% bagi penumpangnya.
Tidak Ada Studi Khusus, tapi Ada Petunjuk
Meski belum ada studi ilmiah besar yang membuktikan kursi mana yang paling aman, beberapa analisis terhadap kecelakaan masa lalu serta desain pesawat bisa memberi petunjuk.
“Semua tergantung pada dinamika kecelakaan,” ujar Daniel Kwasi Adjekum, peneliti keselamatan penerbangan dari University of North Dakota.
Jika pesawat benar-benar hancur total, posisi kursi tidak banyak membantu. Namun, jika kecelakaan terjadi saat pendaratan dengan sudut rendah, seperti saat pesawat tergelincir dari landasan, lokasi duduk bisa menjadi faktor penyelamat.
“Dalam skenario seperti ini, kemungkinan badan pesawat pecah dua bagian, dan energi kinetik paling besar berada di bagian depan,” jelas Adjekum. Artinya, bagian belakang cenderung lebih aman.
Fakta ini diperkuat oleh analisis Time Magazine tahun 2015 terhadap data FAA, yang menyebutkan bahwa sepertiga bagian belakang pesawat memiliki tingkat kematian terendah.
Bagian Tengah Layak Dipertimbangkan
Selain belakang, Wu juga menyoroti area di dekat sayap pesawat sebagai lokasi yang lebih kokoh karena struktur penopangnya. “Area ini dibangun lebih kuat dan dekat dengan pintu darurat, yang berarti lebih cepat dievakuasi,” ujar Wu.
Namun, ada satu kelemahan: di bawah area ini biasanya terletak tangki bahan bakar. Jika terjadi kebocoran atau kebakaran saat kecelakaan, waktu evakuasi menjadi sangat krusial.
“Batas waktunya 90 detik. Dalam kondisi seperti itu, jangan ambil koper, jangan panik, dan jangan malah sibuk merekam video,” ujar Adjekum. “Ikuti instruksi kru kabin. Itu yang paling penting.”
Pesawat modern sebenarnya telah dirancang agar risiko saat kecelakaan bisa ditekan semaksimal mungkin. Beberapa bagian bisa lepas untuk melindungi kabin utama, sabuk pengaman dibuat khusus untuk menyerap gaya benturan, dan kursi dipasang sangat kokoh.
Namun, peran penumpang tetap penting. Selain mengenakan sabuk pengaman dan mematuhi aturan, Adjekum dan Wu menyarankan penumpang untuk mengenali posisi tempat duduk dan hitung jumlah baris menuju pintu keluar.
“Kalau terjadi asap, Anda tidak bisa mengandalkan pandangan mata,” jelas Wu.
Walaupun duduk di belakang atau dekat sayap memberi kemungkinan keselamatan lebih besar dalam skenario tertentu, tidak ada satu jawaban pasti untuk semua kecelakaan. Banyak tergantung pada jenis insiden, sudut benturan, dan waktu evakuasi.
Jadi, ketika naik pesawat berikutnya, cobalah perhatikan lingkungan sekitar. Tonton video keselamatan, catat posisi pintu darurat, dan dengarkan baik-baik instruksi awak kabin. Mungkin terlihat sepele, tapi bisa menyelamatkan nyawa.