Asal Usul Manusia Punya Bola Mata Berwarna Biru
Begini kronologi manusia memiliki bola mata berwarna biru.
Dalam sejarah panjang Homo sapiens, mata biru bukanlah ciri bawaan sejak awal. Warna mata ini baru muncul belakangan, dipicu oleh mutasi genetik yang diperkirakan terjadi sekitar 6.000 hingga 10.000 tahun lalu.
Sebelumnya, semua manusia diyakini memiliki mata berwarna cokelat. Namun sebuah perubahan kecil dalam kode genetik mengubah peta visual umat manusia untuk selamanya.
Mengutip IFLScience, Rabu (25/6), penelitian awal menyebut bahwa mutasi ini terjadi pada gen HERC2, yang memengaruhi aktivitas gen tetangganya, OCA2. Gen OCA2 sendiri berperan penting dalam produksi melanin. Pigmen yang menentukan warna kulit, rambut, dan mata. Mutasi pada HERC2 tidak mematikan OCA2 sepenuhnya, tetapi cukup untuk mengurangi produksi melanin pada iris, sehingga warna mata tampak lebih terang.
Menariknya, mata biru sebenarnya tidak mengandung pigmen biru. Warna tersebut muncul akibat struktur iris yang memantulkan cahaya biru melalui fenomena yang disebut efek Tyndall. Sebuah fenomena yang juga menyebabkan salju putih tampak kebiruan dalam kondisi tertentu.
Penemuan gen ini pertama kali dilakukan pada 1990-an oleh Hans Eiberg, ahli genetika asal Denmark. Dalam sebuah studi pada 2008, tim Eiberg meneliti DNA mitokondria dari individu bermata biru yang berasal dari Denmark, Yordania, dan Turki. Hasilnya menunjukkan bahwa semua pemilik mata biru memiliki “saklar” genetik yang sama—petunjuk kuat bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama.
Namun, waktu terus berjalan dan ilmu pengetahuan pun berkembang. Sebuah studi pada 2016 menelusuri DNA manusia Zaman Es di Eropa dan menemukan bahwa gen pemicu mata terang muncul hampir bersamaan di wilayah Italia dan Kaukasus sekitar 13.000 hingga 14.000 tahun lalu.
Tahun 2024, ilmuwan menemukan DNA purba dari kerangka bayi berusia 17.000 tahun di Italia Selatan. Hasil rekonstruksi genetika menunjukkan bahwa bayi tersebut kemungkinan memiliki mata biru, kulit gelap, dan rambut cokelat keriting—kombinasi yang membantah stereotip bahwa mata biru hanya dimiliki oleh orang berkulit terang.
Akan tetapi, warna mata tidak sesederhana yang selama ini kita pikirkan. Warna ini tidak hanya dikendalikan satu gen, melainkan interaksi kompleks dari lebih dari 10 gen berbeda. Itu sebabnya, klasifikasi warna mata dalam tiga kategori (biru, hijau/hazel, dan cokelat) sering dianggap terlalu menyederhanakan kenyataan. Setiap pasang mata adalah kombinasi unik dari nuansa dan pigmen yang berbeda.
Salah satu temuan yang sempat menghebohkan adalah Cheddar Man, kerangka manusia hampir lengkap tertua yang ditemukan di Inggris. Penelitian pada DNA-nya menunjukkan bahwa ia kemungkinan besar memiliki mata biru, kulit hitam, dan rambut keriting. Namun, peneliti mengingatkan bahwa warna matanya tidak sepenuhnya biru cerah, melainkan campuran antara biru, hijau, kuning, dan cokelat yang membentuk gradasi warna khas.
Lalu, apakah mata biru akan punah? Beberapa orang khawatir karena warna ini diturunkan secara resesif, sementara cokelat lebih dominan. Namun kekhawatiran itu tidak berdasar. Diperkirakan sekitar 10 persen populasi dunia masih memiliki mata biru—angka yang cukup besar untuk menjaga keberlangsungan varian genetik tersebut dalam populasi manusia selama ribuan tahun mendatang.
Seperti halnya rambut merah atau daun telinga melekat, mata biru adalah salah satu keunikan genetika yang tidak akan hilang begitu saja.