162 Tahun yang Lalu AI sudah Diprediksi oleh Seorang Penulis, Ini Buktinya
Samuel Butler memprediksi dominasi mesin dan AI pada tahun 1863. Ia membahas kemungkinan manusia menjadi "peliharaan" teknologi dengan pendekatan futuristik.
Pada tahun 1863, Samuel Butler, seorang penulis asal Inggris, secara visioner memprediksi evolusi teknologi dan dominasi kecerdasan buatan (AI) dalam suratnya berjudul Darwin Among The Machines.
Dalam surat itu, Butler memadukan teori evolusi dengan perkembangan mesin, menciptakan pandangan futuristik tentang hubungan manusia dan teknologi yang masih relevan hingga kini.
Butler, menggunakan nama pena "Cellarius," menyampaikan pandangannya melalui surat kepada editor surat kabar The Press di Selandia Baru.
Dalam surat tersebut, ia menyebut bahwa mesin akan terus berkembang hingga melampaui kemampuan manusia. Butler berargumen bahwa manusia, melalui penciptaan mesin, secara tidak langsung menciptakan penerus mereka sendiri.
Beberapa kutipan yang paling mengena dari surat tersebut adalah:
“Hari demi hari, mesin semakin unggul dibandingkan kita; kita menjadi lebih bergantung pada mereka.”
“Kita sendiri yang menciptakan penerus kita, menambah keindahan dan kekuatan pada organisasi fisik mereka.”
“Kita akan menemukan diri kita menjadi ras yang inferior.”
Manusia sebagai "Peliharaan" AI
Butler tidak menggambarkan dominasi mesin sebagai ancaman apokaliptik. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa mesin tidak akan memiliki kebutuhan untuk menghancurkan manusia, melainkan akan memperlakukan manusia seperti hewan peliharaan.
Ia menulis, “Manusia akan menjadi bagi mesin seperti kuda dan anjing bagi manusia, menikmati hidup domestikasi yang lebih baik daripada kehidupan liar mereka saat ini.”
Pandangan Butler muncul di masa ketika banyak penemuan modern seperti telepon, mobil, dan pesawat terbang belum tercipta. Pandangannya yang maju jauh melampaui zamannya, bahkan sebelum konsep kecerdasan buatan menjadi wacana ilmiah.
Ketika dunia kini berada di ambang revolusi AI, prediksi Butler tentang hubungan manusia dan teknologi terasa semakin relevan.
Meski belum jelas apakah AI akan menggantikan manusia atau menciptakan bentuk koeksistensi baru, pemikiran Butler mengundang refleksi mendalam tentang masa depan peran manusia dalam era teknologi.