Menilik Kisah Dakota RI-001 Seulawah, Pesawat Angkut Pertama Sekaligus Pelopor Penerbangan Sipil di Indonesia
Pesawat persembahan dari masyarakat Aceh ini menjadi langkah besar industri penerbangan sipil di Indonesia.
Pesawat persembahan dari masyarakat Aceh ini menjadi langkah besar industri penerbangan sipil di Indonesia.
Menilik Kisah Dakota RI-001 Seulawah, Pesawat Angkut Pertama Sekaligus Pelopor Penerbangan Sipil di Indonesia
Saat ini, orang-orang bisa menikmati penggunaan transportasi udara yang jauh lebih nyaman dan aman tentunya. Namun, tidak banyak yang tahu bagaimana sejarah awal mula penerbangan sipil di Indonesia.Adanya transportasi udara ini berkat tokoh dan masyarakat terdahulu yang ikut andil dalam menorehkan sejarah penerbangan sipil di Indonesia. Pasca kemerdekaan Indonesia, TNI Angkatan Udara berencana ingin membeli pesawat angkut jenis Dakota sebanyak 25 unit. Tak disangka rencana TNI-AU dalam pembelian pesawat jenis Dakota itu justru mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden Soekarno. Masalahnya, finansial negara saat itu masih belum mampu untuk membeli pesawat angkut tersebut.
Tanpa diprediksi, pesawat jenis Dakota ini menjadi pesawat kepresidenan saat itu dan juga pelopor lahirnya sejarah penerbangan komersil di Indonesia.
Melawat ke Aceh
Wacana pembelian pesawat ini terus digaungkan oleh pemerintah Indonesia kala itu, pihaknya berusaha keras melakukan pencarian dana sumbangan hingga ke Pulau Sumatra.
Tepat 16 Juni 1948, Presiden Soekarno dijadwalkan akan berangkat ke Aceh untuk menghadiri rapat umum yang berlangsung di Hotel Kutaraja. Mengutip laman indonesia.go.id, pertemuan ini menjadi aksi penggalangan dana untuk membeli pesawat tersebut.
Setelah dilakukan penggalangan dana, masyarakat Aceh berhasil mengumpulkan dana setara dengan emas seberat 20 kg. Dari uang tersebut, akhirnya pemerintah memutuskan untuk membeli pesawat DC-3 Dakota.
Arti Seulawah
Pembelian pesawat yang dinantikan akhirnya bisa terealisasikan. Pesawat DC-3 Dakota kemudian diberi nama 'Seulawah'. Nama ini diambil dari bahasa Aceh yang artinya Gunung Emas.
Detailnya, pesawat ini memiliki panjang 19,66 meter dan rentang sayap sepanjang 28,29 meter yang ditenagai dua mesin baling-baling dari perusahaan Pratt & Whitney. Diperkirakan kecepatan pesawat ini bisa tembus hingga 346 km/jam.
Selain menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki Indonesia, DC-3 Dakota juga melayani rute reguler mulai dari Yogyakarta-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja atau Banda Aceh dengan jumlah 22 penumpang.
(Foto: museum.kemdikbud.go.id)
Berdirinya Indonesian Airways
Pada kedatangannya sekitar tahun 1948, pesawat ini langsung mengangkut Presiden Soekarno saat kembali dari Yogyakarta menuju Jakarta setahun setelahnya. Masyarakat sipil pun begitu antusias melihat kedatangan pesawat itu di Bandara Kemayoran.
Setelah melakukan serangkaian perawatan pada DC-3 Dakota, pesawat ini sudah siap dan laik terbang. Akan tetapi, ketika Agresi Militer Belanda berlangsung, pesawat ini tidak memungkinkan untuk terbang.
Kondisi untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dirasa tidak mudah dan memerlukan persenjataan yang tidak sedikit, DC-3 Dakota pun akhirnya mengudara sebagai pesawat komersil.
Akhirnya pada 26 Januari 1949 berdirilah sebuah perusahaan maskapai yang bernama Indonesian Airways yang menggunakan DC-3 Dakota. Maskapai ini langsung melayani rute ke luar negeri, yaitu Birma atau yang saat ini lebih dikenal dengan negara Myanmar.