Avro Anson adalah pesawat bermesin ganda yang diproduksi oleh Inggris. Avro Anson menjadi unit pesawat pertama yang dimiliki oleh Indonesia pada tahun 1947.
Saat ini, apabila Anda melewati jalan raya Bukittinggi-Medan, tepatnya di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Anda bisa menjumpai sebuah monumen replika pesawat Avro Anson dengan nomor registrasi RI-003 di body pesawatnya.
Penasaran kisah di balik pesawat Avro Anson ini? Simak rangkumannya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Advertisement
Pasca kemerdekaan, perjuangan Indonesia untuk melawan agresi Belanda masih belum selesai. Saat itu, kesadaran masyarakat untuk membantu para prajurit dalam melawan penjajah sangatlah tinggi, termasuk masyarakat di Bukittinggi.
Secara bersama-sama, mereka mendukung dan membantu Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) untuk melawan dan mengusir Belanda dari tanah air. Semua pengaruh ini tak lepas dari seorang pahlawan Indonesia yang namanya diabadikan menjadi bandara yaitu Iswahyudi.
Atas pengaruhnya, masyarakat dapat membantu AURI dengan patungan membeli pesawat yang dikumpulkan dari patungan ibu-ibu yang secara suka rela memberikan tabungan emasnya. Sampai akhirnya emas terkumpul lebih kurang 14 Kg dan dibelikan pesawat jenis Avro Anson.
Advertisement
Menengok asal usul pesawat Avro Anson, sebelum menjadi milik Indonesia, pesawat ini adalah milik seorang warga negara Australia bernama Paul Keegan. Pesawat itu dibeli darinya pada tahun 1947 silam. (Foto: wikipedia)
Advertisement
Setelah pembelian dilakukan, Iswahyudi bersama Halim Perdana Kusuma menjadi pilot pertama yang menerbangkan pesawat Avro Anson tersebut. Sebelumnya, mereka berdua mempelajari terlebih dahulu apa saja yang dipersiapkan dalam menerbangkan pesawat bermesin ganda ini.
Melansir dari buku Iswahyudi (1983), saat mereka berdua sudah mampu menerbangkannya, mereka mengantar Keegan ke Bangkok. Di saat yang sama, mereka juga menjalankan misi membawa peralatan perang dan obat-obatan.
Saat berangkat, mereka sukses membawa pesawat keluar dari blokado Belanda hingga mendarat dengan mulus di Bangkok. Namun, bencana pun terjadi saat Iswahyudi dan Halim Perdana Kusuma sedang dalam perjalanan kembali menuju Indonesia melewati Singapura. Cuaca buruk yang terjadi di wilayah tersebut mengakibatkan gangguan pada pesawat dan akhirnya terjatuh.
Jasad Halim Perdana Kusuma berhasil ditemukan oleh seorang nelayan yang ada disekitar kejadian. Sementara Iswahyudi tidak diketahui jasadnya sampai detik ini.
Advertisement