Mengapa Anak Zaman Sekarang Makin Akrab dengan Kata Stres?

Anak generasi Alpha makin akrab dengan istilah stres. Pakar IPB menjelaskan cara orangtua merespons saat anak berkata ‘aku stres’.

Benedikta Desideria
Oleh Benedikta Desideria- Reporter
Mengapa Anak Zaman Sekarang Makin Akrab dengan Kata Stres?
Gen Alpha Belanja (AI Generated)

Anak-anak generasi Alpha kini semakin akrab dengan istilah stres. Tak sedikit yang sudah berani mengutarakan kepada orangtua, "aku stres". Kondisi ini perlu dipahami dan ditanggapi dengan cara yang tepat agar kebutuhan emosional anak terpenuhi.

Menurut Dr Yulina Eva Riany, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, penggunaan istilah stres oleh anak tidak serta-merta menandakan mereka lebih rentan mengalami gangguan psikologis dibanding generasi sebelumnya.

"Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan digital dengan akses informasi luas sehingga lebih sering terpapar istilah psikologis melalui media sosial dan pergaulan," kata Yulina, dikutip dari laman IPB University.

Ia menekankan, hal terpenting saat anak mengungkapkan "aku stres" adalah cara orangtua merespons. Alih-alih langsung menilai atau memberi nasihat, langkah awal yang disarankan adalah membuka ruang dengar.

"Ketika anak mengatakan ‘Aku stres’, respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak, bukan langsung memberikan penilaian atau nasihat," jelasnya.

Stres sendiri merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan atau tuntutan. Pada anak, tekanannya bisa datang dari tugas akademik, jadwal kegiatan yang padat, paparan media digital yang berlebihan, konflik pertemanan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi hangat di rumah.

"Stres perlu diwaspadai apabila berlangsung berkepanjangan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Tandanya dapat berupa perubahan pola tidur, kehilangan minat bermain, mudah marah, menarik diri, atau keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis yang jelas," ungkap Yulina.

Terkait tren penggunaan squishy, Yulina menyebut aktivitas sensorik yang berulang dapat membantu sebagian anak menenangkan diri dan mengalihkan perhatian dari situasi menegangkan. Meski demikian, squishy bukan solusi tunggal. Orangtua tetap perlu memastikan keamanan produk dan mendampingi anak mengembangkan strategi pengelolaan emosi lainnya.

Orangtua dianjurkan membiasakan anak mengenali serta menamai perasaannya, menerima emosi tanpa menghakimi, dan mengajarkan teknik sederhana seperti menarik napas perlahan atau menghitung satu sampai sepuluh saat marah.

Selain dukungan emosional, anak membutuhkan tidur yang cukup, asupan gizi yang baik, dan waktu bermain yang seimbang agar regulasi emosinya lebih stabil.

"Setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap tekanan. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman, penerimaan, dan dukungan emosional," pungkasnya.
Rekomendasi